banner 728x90

Ekti Imanuel Minta Guru Pedalaman dari Putra Daerah

Samarinda – “Kalau dari daerah sendiri, biasanya mereka lebih tahan.” Kalimat ini diucapkan Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ekti Imanuel, sebagai bentuk keprihatinan atas tingginya angka perpindahan tenaga pendidik dari luar daerah di kawasan pedalaman seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Saat diwawancarai pada Senin (16/6/2025), Ekti meminta agar pemerintah daerah memprioritaskan putra-putri lokal saat melakukan rekrutmen guru di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Menurutnya, penempatan guru dari luar sering tidak bertahan lama karena terganjal masalah kesejahteraan dan fasilitas.

“Kalau bisa saat melakukan rekrutmen guru, yang diambil itu putra-putri daerah,” ucap politisi dari Fraksi Gerindra itu.

Ia menilai, keberlanjutan pendidikan di daerah terpencil sangat dipengaruhi oleh keberadaan tenaga pendidik yang siap tinggal dan mengabdi dalam jangka waktu panjang. Sering kali, guru dari luar hanya bertugas selama beberapa tahun, kemudian mengajukan mutasi karena merasa kesulitan hidup di daerah dengan akses terbatas.

“Kalau ambil dari luar, kadang-kadang ya, lima tahun saja, habis itu mereka minta pindah. Kita berharap yang dimaksimalkan adalah putra daerah,” tegasnya.

Ekti juga menggarisbawahi bahwa permasalahan serupa terjadi di sektor kesehatan, di mana dokter kesulitan bertahan di daerah tanpa adanya peluang tambahan penghasilan seperti praktik mandiri.

“Kita paham, kalau di kota kan masih bisa praktik atau punya pendapatan luar. Tapi di Mahakam Ulu misalnya, dokter atau guru susah bertahan karena tidak ada itu semua,” katanya.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya strategi jangka panjang yang fokus pada pembangunan SDM lokal, terutama dalam bidang pendidikan. Menurutnya, pemerintah daerah tidak cukup hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga harus memastikan tersedianya guru yang berkomitmen terhadap wilayah tempat mereka mengabdi.

“Treatment masalah ini harus diselesaikan dari sisi SDM-nya. Kalau Mahakam Ulu atau Kutai Barat, ya tenaga pendidik atau gurunya ya dari sana saja,” ungkap Ekti.

Harapan ini juga menyiratkan perlunya dukungan beasiswa, pelatihan guru, serta insentif khusus agar generasi muda dari daerah dapat menjadi pendidik yang profesional dan berkelanjutan di kampung halamannya. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *