Kutimzone.com, Sangatta – Di tengah keberhasilan program sekolah filial yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terdapat peran penting yang tak boleh dilupakan: para guru. Mereka menjadi ujung tombak pemerataan pendidikan, menghadirkan harapan bagi anak-anak di wilayah pelosok untuk mengakses pembelajaran yang layak, meskipun jauh dari pusat kota.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa komitmen dan keberanian para guru menjadi faktor kunci yang membuat sekolah filial mampu berjalan efektif.
“Sekolah filial kita bentuk agar anak-anak di perkampungan jauh tetap bisa belajar tanpa harus menempuh jarak jauh,” ujar Mulyono, Kamis (13/11/2025).
Namun, menurutnya, semua itu tak akan berjalan tanpa kehadiran guru yang bersedia turun langsung ke lapangan, menghadapi tantangan akses jalan tanah, lereng curam, hingga menyeberangi sungai untuk sampai ke lokasi mengajar.
Dalam sistem sekolah filial, guru dari sekolah induk dijadwalkan secara bergilir untuk mengajar di filial. Pendekatan ini memastikan standar kualitas pembelajaran tetap terjaga, sekaligus menghadirkan pemerataan tenaga pendidik hingga ke pelosok.
“Selain memperluas akses pendidikan, sekolah filial juga berfungsi untuk pemerataan tenaga pendidik,” tambah Mulyono.
Lebih dari sekadar mengajar, para guru filial juga membangun kedekatan sosial dengan komunitas setempat. Tak jarang mereka menggunakan ruang belajar darurat sebelum bangunan permanen selesai dibangun, sekaligus aktif dalam kegiatan masyarakat untuk memperkuat hubungan antara sekolah dan warga.
Kehadiran guru di pedalaman seringkali menjadi titik balik, membangkitkan semangat baru terhadap pentingnya pendidikan. Banyak warga yang semula apatis mulai terlibat dalam pembangunan fasilitas belajar dan mendukung proses belajar-mengajar anak-anak mereka.
Sekolah filial dibentuk berdasarkan tiga kriteria utama: tersedianya lahan, jumlah siswa minimal 60 orang, serta urgensi kebutuhan wilayah. Jika perkembangannya positif, filial bisa ditingkatkan menjadi sekolah negeri penuh. Beberapa wilayah bahkan telah membuktikan keberhasilan transisi ini.
Mulyono menegaskan, guru adalah kunci dari nyala pendidikan di daerah terpencil. Tanpa mereka, upaya pemerataan pendidikan akan terhenti di atas kertas.
“Pembangunan sekolah tidak akan pernah berhenti. Ini tentang memastikan semua anak punya hak yang sama untuk belajar,” tegasnya. (ADV/RI)





