banner 728x90

Sekolah Filial di Kutim Jadi Jembatan Kesetaraan Sosial

Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur. (Kutimzone.com)
Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur. (Kutimzone.com)

Kutimzone.com, Sangatta – Di balik medan yang sulit dijangkau dan jarak yang membentang jauh dari pusat kota, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus melangkah dengan komitmen kuat dalam pemerataan akses pendidikan. Salah satu terobosannya adalah program sekolah filial, yang kini tidak hanya berperan sebagai solusi belajar di pedalaman, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan sosial di komunitas terpencil.

Program ini diinisiasi sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat di kawasan terpencil yang ingin anak-anak mereka tetap mendapatkan pendidikan tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, menyebut bahwa sekolah filial lahir dari kondisi nyata yang dihadapi warga di pedalaman.

“Kita bentuk sekolah filial agar anak-anak di perkampungan jauh tetap bisa belajar tanpa harus menempuh jarak jauh,” ujarnya Kamis (13/11/2025).

Lebih dari sekadar akses belajar, keberadaan sekolah filial memicu semangat gotong royong dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya pendidikan. Di sejumlah desa, warga turut bergotong royong menyediakan lahan, membangun ruang belajar sederhana, hingga mengawasi kegiatan belajar-mengajar secara aktif.

Program ini juga membuka ruang bagi para guru untuk menyelami kondisi sosial masyarakat secara langsung. Melalui sistem pengajaran bergilir antara sekolah induk dan filial, para pendidik dapat menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar lebih relevan dengan kebutuhan anak-anak di wilayah tersebut.

“Guru-guru datang bergantian, jadi kualitasnya tetap sama,” terang Mulyono.

Pemkab Kutim menekankan bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya tentang membangun gedung atau menambah jumlah sekolah, tetapi juga memastikan bahwa seluruh anak, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang setara untuk belajar. Konsep sekolah filial menjadi simbol dari pendekatan pembangunan yang inklusif dan adaptif terhadap realitas sosial dan geografis daerah.

“Pembangunan sekolah tidak akan pernah berhenti. Ini tentang memastikan semua anak punya hak yang sama untuk belajar,” tegas Mulyono.

Kini, sekolah filial berkembang menjadi lebih dari sekadar ruang belajar. Ia hadir sebagai jembatan kesetaraan sosial, membuktikan bahwa pendidikan bukan hak eksklusif warga kota, melainkan milik seluruh anak Kutai Timur, dari pesisir hingga pedalaman. (ADV/RI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *