Kutimzone.com, Sangatta – Dalam upaya memperkuat kontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan, PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field meluncurkan Program Pengembangan Tani Hutan Kelulut Sangatta atau dikenal dengan nama Prolekta, selasa 1 Oktober 2024.
Program CSR ini tak hanya memberdayakan petani madu kelulut tetapi juga mengembangkan potensi wisata edukatif di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim). Berawal dari upaya sederhana untuk memperbaiki sistem budidaya lebah kelulut, Prolekta telah berkembang menjadi model pemberdayaan masyarakat yang komprehensif dengan sejumlah inovasi baru.
Prolekta diluncurkan pada 2021 dengan fokus awal membangun infrastruktur dan meningkatkan kapasitas petani lewat pelatihan keamanan pangan. Pada tahun-tahun berikutnya, program ini terus berevolusi, di antaranya dengan pelatihan budidaya lebah kelulut, inisiasi gerakan lingkungan seperti “Satu Orang Satu Pohon”, dan pengenalan inovasi teknologi sederhana seperti alat hisap madu yang kini telah dipatenkan.
Menurut Manager Sangatta Field Cahyo Nugroho, program CSR yang dikembangkan selalu mengacu pada hasil pemetaan sosial di sekitar wilayah operasi.
“Kami memastikan bahwa program yang kami jalankan selaras dengan kebutuhan dan potensi lokal, serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan,” ungkap dia.
Cahyo menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, UMKM, dan masyarakat lokal, untuk memastikan keberhasilan program. Keberhasilan Prolekta tidak lepas dari dukungan beragam pihak, mulai dari Dinas Koperasi, Dinas Pariwisata, hingga Universitas Mulawarman.
Kolaborasi ini memungkinkan pengembangan lebih lanjut di 2023 dengan pembukaan Galeri Produk Khas Kutim dan pembangunan infrastruktur wisata, seperti boardwalk untuk memudahkan akses wisatawan.
Pada 2024, fokus pengembangan diarahkan pada pemantapan usaha mandiri kelompok tani, serta penerapan teknologi modern. Elis Fauziyah, Head of Communication Relations & CID Zona 9, mengungkapkan bahwa Prolekta telah melahirkan lima subunit usaha baru. Termasuk UMKM Produsen Madu Kelulut dan Eduwisata Budidaya Lebah Kelulut.
“Subunit usaha ini berperan penting dalam memproduksi madu kelulut, mengembangkan wisata edukatif, hingga menciptakan produk kreatif khas Kutai Timur yang berkelanjutan,” jelas Elis.
Salah satu inovasi terbaru adalah pengelolaan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti asap cair yang diolah dari limbah propolis dan jamur dari media tanam baglog. Selain itu, Bank Sampah Sederhana Trigona menjadi pionir dalam pengelolaan limbah domestik organik dan anorganik di kawasan tersebut.
Dampak program ini sangat signifikan bagi lingkungan. Elis menyebut bahwa Prolekta mampu mengurangi emisi karbon hingga 0,15172 ton CO2 per tahun dan mengolah 100 kilogram sampah plastik menjadi media tanam. Tidak hanya itu, program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi 25 warga lokal dan memproduksi berbagai olahan madu, termasuk produk unik seperti teh madu kelulut dan kukis jahe kelulut.
Program eduwisata Prolekta pun semakin menarik perhatian, dengan lebih dari 1.400 wisatawan yang berkunjung setiap tahunnya. Di balik keberhasilan ini, Triyono, Ketua Kelompok Tani Hutan Trigona Reborn, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara wisata dan pelestarian lingkungan.
“Kami selalu menjadwalkan kunjungan wisatawan agar koloni lebah kelulut tidak terganggu,” ujar dia.
Program Prolekta telah mengangkat nama Kabupaten Kutim hingga ke kancah nasional. Pada 2021, program ini turut berperan dalam perolehan penghargaan Smart Branding dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, sebagai bagian dari Smart City. Dengan dukungan dari PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dan SKK Migas, PEP Sangatta Field terus memperluas cakupan program tanggung jawab sosialnya, selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui berbagai inisiatif ini, PT Pertamina EP Sangatta tak hanya memberdayakan masyarakat, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Prolekta menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah dan masyarakat dapat menciptakan perubahan positif yang berdampak luas. (Rls)


