Kukar – Seperti mimpi buruk yang berulang, tanah longsor kembali menutup akses jalan utama di KM 16 wilayah Sanga-sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada Rabu (11/6/2025) sore. Jalan vital yang menghubungkan Kelurahan Pendingin dan Sangasanga Dalam ini kembali lumpuh usai hujan deras mengguyur area tambang milik PT Indomining.
Anggota Komisi III DPRD Kaltim, Syarifatul Sya’diah, menanggapi peristiwa ini dengan mendesak penanganan cepat dari pemerintah. Ia menyoroti pentingnya segera mengidentifikasi otoritas yang bertanggung jawab, mengingat status jalan bisa berada di bawah kewenangan nasional, provinsi, maupun kabupaten.
“Kita lihat dulu yang bagian longsoran ini kewenangan siapa ya. Kalau provinsi memang ada anggaran darurat yang bisa dimanfaatkan melalui OPD terkait,” kata Syarifatul saat ditemui di Gedung E DPRD Kaltim, Samarinda.
Ia juga menegaskan bahwa jalan-jalan yang menjadi tumpuan transportasi masyarakat tidak boleh dibiarkan terlalu lama rusak atau tertutup, karena berdampak langsung pada ekonomi dan akses pelayanan dasar masyarakat.
“Harapan kami, jalan-jalan yang memang untuk transportasi umum masyarakat cepat ditangani. Biar tidak ada kemacetan ekonomi, agar masyarakat tidak komplain,” tambahnya.
Kepala Dinas ESDM Kaltim, Bambang Arwanto, mengonfirmasi bahwa titik longsor ini adalah lokasi yang sebelumnya memang sudah diwaspadai sejak kejadian pertama pada Senin (26/5/2025). Bambang menyebutkan, warga dalam rapat sebelumnya bahkan sudah mengusulkan solusi jangka panjang berupa pembangunan jalan alternatif yang lebih kokoh.
“Longsoran pada titik ini sudah diperkirakan akan terjadi lagi. Dalam rapat terakhir, warga sudah meminta agar jalan alternatif yang dibangun dibuat rigid, dan jalan lama ditutup total karena membahayakan pengguna jalan,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinas ESDM telah meminta PT Indomining membangun jalan rigid selebar 6 meter sepanjang 100 meter di jalur alternatif. Selain itu, jalan lama yang rawan longsor akan ditutup permanen untuk mencegah korban jiwa dan kecelakaan.
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga telah dikontak melalui kelurahan setempat untuk melakukan pengecekan bersama atas progres penanganan tersebut. Kerja sama ini penting untuk menjamin kelancaran transportasi bagi ribuan warga yang setiap harinya mengandalkan jalan itu untuk bekerja, sekolah, hingga mengakses layanan kesehatan.
Langkah antisipasi seperti pembangunan jalan alternatif diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya menyelesaikan masalah darurat, tapi juga memperkuat sistem transportasi masyarakat di wilayah tambang yang rentan bencana. (ADV).





