banner 728x90

Kolaborasi, Kunci Tekan Stunting di Kabupaten Kutai Timur

Suasana Peringatan Puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 (Istimewa).

Kutimzone.com, Sangatta – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi momen penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menurunkan angka stunting. Acara yang digelar di bawah sinergi berbagai pihak ini mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam menghadapi tantangan serius yang mengancam kualitas generasi penerus bangsa, Rabu, 16 oktober 2024.

Sekretaris Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) sekaligus Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutim Achmad Junaidi, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektoral untuk mempercepat penurunan stunting di wilayah tersebut. 

“Pembangunan keluarga yang kuat dan sejahtera harus dimulai dari memastikan bahwa anak-anak terbebas dari stunting. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujar Junaidi di hadapan tamu undangan yang hadir di acara tersebut.

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti Sekretaris Kabupaten Rizali Hadi yang datang mewakili Pj Bupati Kutim H M Agus Hari Kesuma. Kemudian ada Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Dr Sunarto, pimpinan dan anggota DPRD Kutim, serta mitra-mitra kerja yang berperan dalam program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting.

Data Terbaru, Penurunan Stunting di Kutim

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam laporan TPPS adalah penurunan signifikan jumlah keluarga berisiko stunting di Kutim. Hasil Audit Kasus Stunting (AKS) menunjukkan bahwa pada Juni 2024, terdapat 15.576 keluarga yang berisiko stunting, menurun dari 19.900 keluarga pada semester kedua tahun 2023. Penurunan ini terus berlanjut hingga September 2024, dengan jumlah keluarga berisiko turun menjadi 12.362 keluarga. Ini berarti ada penurunan total 7.538 keluarga berisiko stunting dalam setahun terakhir.

Sementara itu, jumlah anak yang terindikasi stunting juga menunjukkan tren yang menggembirakan. Pada Juni 2024, tercatat 1.801 anak stunting di Kutim yang tersebar di 18 kecamatan. Hingga September 2024, jumlah ini turun menjadi 1.748 anak. Kecamatan Muara Bengkal menjadi wilayah dengan jumlah anak stunting tertinggi, yakni 224 anak, sementara Kecamatan Batu Ampar mencatat jumlah terendah dengan 5 anak.

“Penurunan ini merupakan hasil dari kerja keras bersama. Namun, perjalanan kita masih panjang. Stunting bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga masalah sosial yang perlu penanganan berkelanjutan,” tambah Junaidi.

Rangkaian Kegiatan dan Penghargaan

Dalam rangkaian kegiatan Harganas tingkat kabupaten, TPPS juga menyelenggarakan seminar bertema “Membedah Hasil Survey Status Gizi dan Data e-PPGBM” yang menghadirkan narasumber dari pusat. Selain itu, penghargaan diberikan kepada berbagai pihak yang berkontribusi aktif dalam program percepatan penurunan stunting. Termasuk para kepala desa, tokoh masyarakat, dan mitra perusahaan seperti PT Indexim Coalindo, PT GAM, PT Pamapersada Nusantara, dan PT Indominco Mandiri.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi tersebut, DPPKB Kutim juga meluncurkan lagu dan video klip “GenRe Bonaan”, sebuah kampanye kreatif yang bertujuan untuk mendorong kesadaran generasi muda tentang pentingnya perencanaan keluarga dan pencegahan pernikahan dini. Lagu tersebut direncanakan akan didaftarkan sebagai kekayaan intelektual Kabupaten Kutim, sebagai bagian dari upaya sosialisasi program Bangga Kencana.

Kolaborasi Lebih Kuat untuk Masa Depan Tanpa Stunting

Sekretaris TPPS Kutim Achmad Junaidi, menegaskan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk menuntaskan masalah stunting. 

“Pelibatan berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, sangat diperlukan. Kami berharap lebih banyak lembaga dan perusahaan yang terlibat secara aktif dalam upaya ini, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan besar di Kutai Timur,” jelas dia.

Ke depan, Kabupaten Kutim berencana memperkuat program edukasi dan penyuluhan bagi ibu hamil dan balita, memastikan penggunaan alat antropometri yang standar. Serta menjamin intervensi gizi dilakukan dengan baik melalui program-program yang telah ada seperti PMT dan Dapur Dahsyat. TPPS juga menekankan pentingnya pemantauan dan evaluasi terus-menerus untuk memastikan target penurunan stunting tercapai.

Dengan adanya dukungan penuh dari berbagai pihak, Kabupaten Kutim optimis dapat terus menurunkan angka stunting, menciptakan keluarga yang lebih sejahtera, dan memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan cerdas. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *