banner 728x90

Hasbollah Dukung Pengembangan Pertanian di Kutai Timur dengan Strategi Baru

DPRD Kutai Timur

Anggota DPRD Kutai Timur, Hasbollah.

KUTIM – Anggota DPRD Kutai Timur, Hasbollah, mendukung upaya untuk mendorong generasi muda agar kembali tertarik dalam sektor pertanian.

Pandangan tersebut selaras dengan pernyataan Menteri Pertanian Indonesia yang menggaungkan istilah “Petani Millennial” sebagai langkah untuk memberi peluang bagi generasi muda dalam berinovasi dan berkreasi di sektor pertanian.

“Lahan kita terus menyusut setiap tahun, dan generasi muda lebih memilih beralih ke industri. Selain itu, banyak lahan yang dialihfungsikan, seperti sawah yang kini ditanami pisang dan komoditas lainnya,” ujar Hasbollah di Kantor DPRD Kutim, beberapa waktu lalu.

Hasbollah mengungkapkan keprihatinannya terhadap penurunan minat bertani di Kutai Timur.

Padahal, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk membawa kesejahteraan.

Dia menilai bahwa sering kali sektor ini dianggap tidak menjanjikan, meskipun jika digeluti dengan serius, hasil pertanian—seperti padi—justru dapat memberikan hasil yang lebih menguntungkan.

“Sebagai contoh, ketika harga beras naik, pemerintah lebih sering mengkondisikan operasi pasar untuk menstabilkan harga, tapi kapan petani bisa sejahtera jika terus seperti ini?” tambahnya.

Menurut Hasbollah, perlu adanya perubahan besar dalam strategi pengelolaan sektor pertanian di Kutai Timur.

Dia mengusulkan agar petani mendapatkan perhatian lebih dalam hal kesejahteraan, salah satunya dengan harga beras yang lebih tinggi dan subsidi yang tepat sasaran.

“Pemerintah harus membeli beras dari petani dengan harga yang layak dan memberikan subsidi untuk sektor pertanian, bukan hanya subsidi BBM yang justru lebih dinikmati oleh kalangan atas,” tegasnya.

Hasbollah juga menginginkan sektor pertanian di Kutai Timur berkembang menjadi industri pertanian yang modern, seperti yang telah dilakukan negara-negara seperti Jepang dan Thailand.

Dia menekankan pentingnya mengganti pola pikir tradisional dengan pendekatan yang lebih inovatif, agar generasi muda tertarik dan sektor ini dapat berkembang lebih maju.

“Kita harus berpikir untuk menjadikan pertanian sebagai industri. Jika terus bergantung pada cara tradisional seperti cangkul, generasi muda tidak akan tertarik,” ungkapnya.

Sebagai seorang petani, Hasbollah mengaku sangat paham dengan tantangan yang dihadapi petani, termasuk harga yang selalu ditekan, meskipun produksi terus meningkat.

Menurutnya, sudah saatnya ada perubahan dalam pola pikir dan metode yang diterapkan dalam pengelolaan sektor pertanian agar petani bisa merasakan kesejahteraan.

“Saya tahu karena saya juga seorang petani. Harga beras selalu ditekan, sementara harga pokok terus meningkat. Jadi, kita perlu perubahan besar agar petani bisa sejahtera,” tutup Hasbollah. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *