banner 728x90

Festival Bahari Nusantara Jadi Ajang Pemkab Kutim Jaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Poniso Renggono. (Istimewa)

Kutimzone.com, Sangatta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) menggelar Festival Bahari Nusantara dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Kabupaten Kutim, Selasa, 22 Oktober 2024.

Festival tersebut adalah  perayaan budaya yang tidak hanya menampilkan hiburan, tetapi juga berperan penting dalam melestarikan identitas lokal di tengah derasnya arus modernisasi.

Acara yang diselenggarakan di Lapangan Helipad, Kompleks Pusat Perkantoran Pemkab Kutim di Bukit Pelangi ini, berhasil menarik perhatian masyarakat dengan kehadiran ratusan pengunjung yang memadati lokasi acara.

Dalam acara pembukaan, turut hadir Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Nurullah, serta sejumlah perwakilan dari berbagai instansi, termasuk Kodim 0909/KTM, Lanal Sangatta, Polres Kutim, Kejaksaan Negeri Kutim, dan perwakilan perangkat daerah lainnya.

Festival ini dibuka oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Poniso Suryo Renggono, yang hadir mewakili Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Kutim, Agus Haru Kesuma.

Dalam sambutannya, Poniso mengatakan festival ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kebudayaan leluhur yang harus terus dilestarikan sebagai upaya memperkuat jati diri Kutim

“Festival ini adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur kita. Tarian pesisir dan pedalaman akan dikolaborasikan dengan tarian kreasi untuk menyambut tamu kehormatan. Memberikan hiburan, serta menampilkan tarian kolosal yang membutuhkan energi besar,” ujar Poniso di hadapan para tamu undangan.

Menjaga Identitas Budaya di Tengah Perubahan

Festival ini tidak hanya menampilkan hiburan, tetapi juga memuat nilai-nilai budaya yang kaya. Seni dan budaya dipilih sebagai tema utama dengan berbagai penampilan tari tradisional yang memukau dan konser musik yang meriah.

Pertunjukan dimulai dengan musik tradisional dan tarian Jepen Genjong Bebaya, tarian khas Kutai Timur yang mencerminkan semangat warga lokal dalam melestarikan budaya.

Penampilan ini langsung mencuri perhatian para penonton yang memenuhi area festival.

Sebagai kabupaten yang akan menjadi salah satu daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), Kutai Timur diharapkan mampu menunjukkan kekayaan budaya dan seni lokalnya.

Poniso menegaskan pentingnya mempersiapkan seni dan budaya Kutim agar mampu tampil tidak hanya di panggung lokal, tetapi juga di kancah nasional dan internasional.

Sehingga, ia berharap ke depannya seni dan budaya Kutim dapat mengisi berbagai acara besar di IKN, memperkenalkan identitas budaya Kutim kepada khalayak luas.

“Kita siapkan tarian yang dapat tampil tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga di panggung nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Pameran Ekonomi Kreatif, Menunjukkan Potensi Kutim

Selain tarian, Festival Bahari Nusantara juga diramaikan oleh pameran ekonomi kreatif yang berlangsung pada 22-25 Oktober 2024.

Pameran ini memamerkan berbagai produk ekonomi kreatif lokal, dari kerajinan tangan hingga kuliner khas Kutim, yang semakin menunjukkan potensi daerah ini sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Nurullah, menuturkan bahwa pameran ini merupakan langkah strategis dalam mengenalkan seni dan budaya Kutim kepada generasi muda dan para wisatawan.

“Melalui festival ini, kita juga menampilkan seni budaya dari berbagai etnis, seperti suku Kutai, Dayak, dan lainnya, yang menjadi bagian penting dari identitas Kutai Timur,” tutur Nurullah.

Nurullah berharap festival ini dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai produk kreatif lokal yang selama ini berpotensi menjadi komoditas wisata.

Warisan Budaya untuk Masa Depan

Festival Bahari Nusantara diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu menjaga warisan budaya Kutai Timur agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Selain sebagai ajang hiburan, festival ini diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda untuk memahami dan menghargai budaya leluhur mereka.

“Kita ingin agar seni budaya Kutai Timur ini tidak hanya dilihat sebagai hiburan, tetapi juga sebagai identitas yang terus hidup di tengah masyarakat,” ujar Nurullah.

Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, menjadi modal penting dalam mempertahankan budaya lokal ini agar tetap lestari.

Festival Bahari Nusantara bukan sekadar perayaan, melainkan wujud nyata upaya Kutim dalam merawat dan mengembangkan budaya leluhur.

Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi dan perkembangan zaman, nilai-nilai budaya lokal harus tetap dijaga agar generasi mendatang bisa merasakan keindahan dan keagungan budaya yang telah diwariskan. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *