Jakarta – Di Panggung Indonesia Water & Wastewater Expo and Forum (IWWEF), Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman menerima penghargaan dari Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya di Jakarta International Convention Center (IJCC), Kamis, 6 Juni 2025. Penghargaan itu diperoleh Ardiansyah dari Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) karena keseriusannya dalam memenuhi hak dasar masyarakat, yakni infrastruktur air.
Penghargaan itu diberikan kepada 32 kepala daerah yang dinilai berdedikasi dalam pengembangan dan pendanaan sektor air minum. Di Kalimantan Timur sendiri hanya empat kepala daerah yang memenuhi kualifikasi itu, yakni Kutai Timur, Samarinda, Bontang dan Penajam Paser Utara.
“Air bukan sekadar infrastruktur. Ini soal hak dasar manusia. Pemerintah daerah yang sungguh-sungguh membangun layanan air minum pantas mendapat penghargaan,” ujar Bima Arya dalam sambutannya.
Kutai Timur menonjol berkat rangkaian kebijakan progresif yang diterapkan selama kepemimpinan Ardiansyah yang dijalankan Perusahaan Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB). Melalui perluasan jaringan distribusi air bersih, penambahan instalasi pengolahan air, serta penguatan kelembagaan Perusahaan Daerah Air Minum, Pemkab Kutim berhasil memperluas jangkauan layanan hingga ke wilayah yang sebelumnya sulit diakses.
Upaya itu tidak hanya menghadirkan air bersih ke rumah-rumah warga, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang.
“Penghargaan ini bukan tentang saya pribadi, melainkan tentang seluruh elemen yang terlibat di Kutim. Ini pengakuan atas kerja kolektif dan keberpihakan kepada kebutuhan mendasar rakyat,” ujar Ardiansyah usai menerima penghargaan.
IWWEF 2025 adalah forum bergensi. Acara itu mempertemukan para pemangku kepentingan dari lintas sektor, pemerintah, swasta, dan organisasi internasional.
Dengan tema tahun ini, “Transformasi Air Minum Menuju Swasembada Air”. Dalam suasana yang sarat semangat kolaboratif, forum ini menjadi ruang pertemuan gagasan, inovasi, hingga pembentukan kebijakan strategis dalam menghadapi tantangan krisis air bersih dan pengelolaan sanitasi yang berkelanjutan.
Bagi Kutim, penghargaan ini adalah penanda penting. Di tengah tantangan topografi, sebaran penduduk, dan keterbatasan infrastruktur, langkah nyata yang dilakukan tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga membangun fondasi masa depan.
Dengan terus memperkuat peran Perumdam TTB sebagai tulang punggung layanan publik dan melibatkan masyarakat dalam pola hidup hemat air, Kutim menjadikan isu air sebagai prioritas kebijakan.
Lebih dari sekadar plakat dan seremoni, penghargaan dari PERPAMSI mencerminkan perubahan paradigma. Bahwa air bukan hanya soal teknis, tetapi politik kesejahteraan. Kutim, melalui kepemimpinan Ardiansyah Sulaiman, menjawab tantangan itu dengan kerja nyata, tak sekadar wacana.
Penghargaan ini menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh. Kutim kini telah mencatatkan diri dalam peta nasional sebagai daerah yang tidak hanya menyuarakan pembangunan, tetapi mewujudkannya dengan gagah dan penuh makna. Sebuah bukti bahwa ketika air mengalir, asa pun mengalir bersamanya. (Rls)


