Kutimzone.com, Sangatta – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengajak seluruh pengusaha Toraja untuk berinvestasi. Ajakannya itu ia sampaikan kepada warga Toraja yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) yang menetap di Kutim.
Ardiansyah menyebut setidaknya ada tujuh sektor usaha non migas yang bisa menampung investasi, diantaranya Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Pariwisata, Kelautan, Perikanan dan Kehutanan. Tujuannya adalah untuk menjaga fiscal lokal.
Dia mengaku, tujuh sektor yang ia rekomendasikan itu merupakan anjuran dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Tujuh sektor itu juga termasuk dalam bagian pondasi ekonomi di Kalimantan Timur (Kaltim).
“Hal ini menjadi tantangan sejak dini yang harus disiapkan,” ujarnya saat menghadiri peresmian dan syukuran Sekretariat IKAT pada Sabtu, 11 November 2023.
Saat ini Bapenas tengah menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah Jangka Panjang (RKP DJP) kedua beberapa waktu lalu di Samarinda.
“Bappenas tidak menyertakan sektor Pertambangan, sebagai sektor unggulan dalam meningkatkan fiskal Daerah,” ujarnya.
Ia mengatakan, saat ini Kutim terintegrasi secara lokal, terkoneksi secara global dan terinspirasi secara universal. Dan akan menjadi ‘Super Hub’ atas keberadaan IKN Nusantara di Kaltim.
“Artinya bukan hanya saja menjadi daerah penyangga, tapi daerah utama yang ikut menipang Perekonomian IKN Nusantara. Kuncinya adalah hilirisasi. Tidak ada lagi ekspor ‘raw material’ Atau bahan mentah,” bebernya.
Tujuh sektor yang paling menjajikan untuk dikembangkan itu perlu dimulai dari sekarang. Alasannya, kata dia, langkah itu sebagai upaya mengantisipasi habisnya bahan baku pertambangan.
“Memang diperlukan pressure terkait investasi itu tentunya, harus ada turunan dari bahan utama itu. Seperti Industri Sawit dan turunanya Industri Kelautan dan Perikanan, Peternakan serta Pengembangan hingga Pariwisata,” terangnya.
Diketahui, Tahun 2030 mendatang, Pemerintah Pusat akan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil dan secara bertahap beralih ke bahan bakar energi hijau atau bio diesel yang lebih ramah lingkungan.
Peluang dari potensi Perkebunan dan Pertanian sangat besar. Contohnya seperti kebutuhan gula cristal dari produk nanas yang sangat diminati masyarakat Polandia, bahan bakunya ada di Kecamatan Batu Ampar.
Sebagai penghasil Batu Bara terbesar di indonesia, APBD Kurai Timur (Kutim) sampai saat ini masih tergantung dari sektor Pertambangan. Setidaknya, sekitar 80 persen APBD Kutim berasal dari royalti sektor Pertambangan Batu Bara dan Migas.


