KUTIM – Anggota komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur (Kutim) Faizal Rachman meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim melakukan langkah jitu dalam hal ketersediaan kebutuhan daging bagi masyarakat. Apalagi menjelang hari raya seperti sekarang ini, kebutuhan daging sapi akan meningkat.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Pemkab Kutim mendatangkan sapi dari daerah lain, seperti NTB dan Sulawesi. Bahkan, dari data Dinas tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim jumlah sapi yang didatangkan dari daerah lain mencapai 70 persen.
Untuk itu, melihat besarnya jumlah kebutuhan sapi jelang hari Raya, Faizal Rachman menilai Pemkab Kutim harus memikirkan cara agar sapi lokal Kutim dapat meningkat. Dengan begitu, ketersediaan sapi saat hari raya Idul Adha dapat terpenuhi.
“Artinya permintaan kebutuhan masyarakat itu tinggi, sementara ternak lokal kita tidak cukup untuk skala yang besar makanya didatangkan dari luar,” kata Faizal.
“Apalagi kebutuhan Idul Adha itu bukan satu atau dua ekor, tapi kalau kebutuhan untuk sehari-hari mungkin masih bisa dicukupi. Artinya ini bukan masalah ketersediaan swasembada pangan tetapi lebih ke momentum lebaran,” tambahnya.
Dia juga mengungkapkan mendatang sapi dari daerah lain dalam jumlah besar ini lantaran masyarakat memanfaatkan momentum hari Raya Idul Adha.
“Ya bisa aja seperti itu, jadi bukan karena kita tidak swasembada. Karena yang main ini semua kan pebisnis dan pastinya mereka cari untung,” ungkap Politisi PDI Perjuangan itu.
Terlepas dari itu, Faizal menyebut bahwa Kutim memang harus siap ketika ada permintaan dalam skala yang besar. Terlebih pemerintah setiap tahunnya sudah menyediakan program bibit.
“Memang budidaya itu kan gak bisa simsalabim (dalam waktu singkat), tapi soal ini saya optimis karena beberapa tahun belakangan beberapa Kelompok Tani (Poktan) ada yang saya dorong untuk pengadaan bibit produktif,” jelasnya.
Faizal berpesan agar bibit tersebut bisa dikelola dan dikembangkan dengan baik. Dia juga tidak ingin mendengar kabar bahwa bibit produktif tersebut dijual masyarakat.
“Saya memang tegaskan ini sama teman-teman, kalau bibit produktif ini kalian jual siap-siap aja dipidanakan. Karena kita inginnya jangan dulu dijual sebelum bibitnya berkembang,” ungkap dia.
Hal ini ditegaskan Faizal, agar masyarakat terdidik untuk bertanggung jawab, “Nah mental seperti ini yang harus kita sampaikan dan dipelihara oleh masyarakat kita,” tandasnya. (adv)


