Samarinda – Dalam momentum Iduladha 1446 H, Agus Suwandy, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Timur sekaligus Ketua Fraksi Gerindra, menyampaikan apresiasi terhadap bantuan kemasyarakatan dari Presiden Prabowo Subianto berupa 13 ekor sapi kurban yang disalurkan ke sejumlah wilayah di Kaltim.
“Kalau tahun lalu hanya satu ekor untuk provinsi, tahun ini meningkat signifikan jadi 13 ekor. Kami mengapresiasi perhatian Pak Presiden terhadap masyarakat Kaltim,” ujar Agus saat ditemui di Kantor DPD Gerindra Kaltim, Sabtu (7/6/2025).
Menurutnya, program ini bukan hanya bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan, tetapi juga menunjukkan keberpihakan Presiden terhadap pelaku peternakan lokal di daerah.
Penyaluran sapi dilakukan dengan pengawasan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim. Kepala DPKH, Fahmi Himawan, menjelaskan bahwa proses pengadaan mengikuti kriteria ketat dari Kementerian Pertanian: sapi jantan, usia di atas dua tahun, dan berat minimal 800 kilogram.
“Distribusi hewan dilakukan sesuai permintaan panitia. Kalau diminta H-1, dikirim H-1. Jika lebih awal, maka tanggung jawab kesehatan tetap di peternak sampai hari H,” kata Fahmi.
Dinas juga memastikan bahwa semua sapi dibeli dari peternak lokal. Meskipun ada opsi membeli dari luar daerah, kebijakan tetap mengutamakan suplai dari dalam Kaltim sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi lokal.
Untuk wilayah-wilayah yang kesulitan menyediakan sapi dengan bobot sesuai standar nasional, seperti di Mahakam Ulu, diberikan solusi berupa dua ekor sapi berbobot lebih ringan untuk dua masjid berbeda agar distribusi tetap proporsional.
Jenis sapi yang dibeli juga termasuk jenis unggulan seperti limosin, simmental, dan brangus. Harga sapi pun bervariasi, namun ditetapkan batas maksimal sebesar Rp100 juta, dan seluruh proses negosiasi dilakukan langsung antara tim Presiden dan peternak.
Agus menambahkan bahwa inisiatif seperti ini seharusnya menjadi contoh dalam pola distribusi bantuan sosial dan keagamaan yang berpihak pada masyarakat dan memperkuat sektor ekonomi lokal.
“Ini bukan sekadar amal ibadah, tapi juga bentuk keberpihakan yang berdampak luas—sosial, ekonomi, dan spiritual,” tegasnya. (ADV).





