banner 728x90

Agus Aras Desak Pembangunan Sekolah Baru di Sangatta

Agus Aras, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur.
Agus Aras, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur.

Samarinda – Persoalan kekurangan ruang belajar kembali mencuat di Kabupaten Kutai Timur, khususnya di wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, setelah hampir 600 siswa lulusan SMP tidak tertampung di SMA Negeri dan SMK setempat. Situasi ini mendapat sorotan serius dari Agus Aras, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur.

“Banyak anak-anak kita di Sangatta Utara dan Selatan yang belum tertampung, baik di SMA Negeri maupun SMK. Kalau dilihat dari angka kelulusan SMP, jelas tidak sebanding dengan jumlah ruang kelas yang ada,” ungkap Agus usai rapat Banmus di Gedung E DPRD Kaltim, Senin (30/6/2025).

Puluhan wali murid sebelumnya menyampaikan keluhan karena anak-anak mereka tidak diterima di sekolah negeri, meskipun telah mendaftar melalui jalur zonasi. Agus menilai, ketimpangan antara jumlah lulusan dan kapasitas ruang kelas harus segera diatasi dengan langkah konkret.

Ia mendesak Dinas Pendidikan Kaltim agar segera merespons persoalan ini dengan mempercepat pembangunan unit sekolah baru (USB) di Sangatta. Informasi dari Pemkab Kutai Timur menyebutkan bahwa lahan sudah tersedia di Sangatta Selatan, tinggal menunggu tindak lanjut provinsi.

“Lahan sudah siap di Sangatta Selatan. Harusnya tahun ini perencanaannya selesai dan dianggarkan, supaya tahun depan sudah bisa masuk tahap pembangunan fisik,” tegasnya.

Namun, Agus menekankan bahwa pembangunan sekolah tidak cukup hanya berupa bangunan. Ia mengingatkan agar penyediaan tenaga pendidik dan sarana pendukung lainnya dilakukan secara bersamaan. Tanpa guru dan fasilitas yang memadai, sekolah baru tidak akan maksimal dalam memberikan layanan pendidikan.

“Bagaimana mungkin kita bangun sekolah baru kalau gurunya tidak disiapkan. Harus sejalan, supaya saat sekolah dibuka, anak-anak bisa langsung belajar dengan optimal,” katanya.

Ia menambahkan, persoalan ini saat ini hanya terjadi di dua kecamatan tersebut, sementara di 16 kecamatan lainnya di Kutai Timur, penerimaan siswa baru masih berlangsung normal. Oleh karena itu, penanganan wilayah Sangatta menjadi prioritas utama.

Agus berharap, dengan pembangunan sekolah baru dan penyiapan tenaga pendidik, tak ada lagi anak-anak yang terpaksa putus sekolah hanya karena ketiadaan ruang.

“Jangan sampai ada yang putus sekolah hanya karena kehabisan kursi. Kita harus pastikan semua anak bisa mengakses pendidikan yang layak,” tutupnya. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *