Oleh: Rail Fauzan
Mahasiswa Semester 7 STAI Sangatta
Bagi kebanyakan orang, Pendidikan Tinggi dianggap sebagai gerbang anak muda merengkuh diri dengan pengetahuan. Selain itu, penulis juga kerap mendengar istilah ‘aktivasi kesadaran’, hanya bisa dilakukan di kampus, benarkah demikian?
Hemat penulis, serangkaian cita mulia di kampus hanya akan terwujud jika didukung dengan sumber daya yang mumpuni, salah satunya adalah kepekaan Pimpinan dan Pemerintah.
Dua hal ini, jika tak menjalin sinergi, akan menimbulkan banyak persoalan, termasuk kemandekan dan kealotan. Tak hanya memengaruhi kampus, juga stake holder, termasuk mahasiswa.
Realita Pahit
Beberapa waktu terakhir, STAI Sangatta sebagai Rahim peradaban di Kutai Timur menampakkan wajah murungnya. Berdasarkan pengamatan penulis, yang lalu lalang di Kampus, hampir tak nampak tanda pembeda antara perguruan tinggi dan sekolah di pelosok yang tak terjamah kemajuan.
Sepanjang penglihatan, lintasan yang ada di kampus bak jalan di pasar-pasar, becek dan tak karuan.
Padahal, pemangku kebijakan di Kampus mestinya melakukan pembenahan lebih dini, juga mengantisipasi permasalah klasik seperti musim hujan. Sebab, seingat penulis, bukan hanya tahun ini, sebelumnya juga pernah terjadi hal serupa.
Penulis kini mempertanyakan diksi ‘aktivasi kesadaran’ hanya bisa dilakukan di kampus. Sebab, para pemangku kebijakan yang otoritatif justru menampakan sikap tak acuh terhadap realita pahit yang kini dirasakan mahasiswa.

Lantas, apa guna pembayaran mahasiswa tiap semester jika kendala klasik seperti itu tak bisa diatasi, bahkan telah berulang kali?.
Persoalan lain, hadirnya semak belukar di ruang-ruang kosong kampus menguatkan dugaan penulis, bahwa Pimpinan tak menaruh perhatian pada etika dan estetika STAI Sangatta.
Lalu siapa yang akan menjadi suluh dari gelapnya kebiasaan para pemangku kebijakan? atau memang sudah taka ada sama sekali orang yang bisa diandalkan untuk mengurusi kampus, bahkan hanya pada urusan remeh temeh seperti Semak belukar?
Sungguh ironi, khalayak mengenal STAI Sangatta sebagai salah satu perguruan tinggi yang berlatar belakang agama. Setahu penulis, agama mengajarkan cinta dan kasih, termasuk kecintaan terhadap etika dan estetika.
Kendati demikian, penulis tak menampik, tak cukup banyak data untuk mengulas banyak persoalan demikian mulai dari akar. Sebab, pimpinan kampus sendiri adalah sekelompok orang yang tak senang menampilkan transparansi anggaran kampus.
Kemana pembayaran mahasiswa tiap semesternya, itu pun tak kami tahu.
Pemkab Bisa Apa?
Agar tak ada kesan bias dan latah, penulis mencoba menghubungkan antara apa yang terjadi di STAI Sangatta dan status Kutai Timur sebagai daerah yang kaya raya.
Sumber Daya Mineral yang melimpah ruah seharusnya mengantarkan Kutai Timur menuju jalan yang cerah.
Caranya sederhana, Pemerintah berkontribusi mewujudkan cita-cita mulia negara, ‘Cerdaskan Kehidupan Bangsa’.
Harta yang menumpuk di Kutai Timur mestinya banyak disalurkan ke Sekolah dan Kampus. Untuk sekadar menunjukkan komitmen dan konsistensi pemerintah dalam menggenjot generasi yang berilmu.
Bagi penulis, jika anggaran daerah banyak tersalur ke institusi Pendidikan, maka sarana serta pra sarana akan terpenuhi. Jika keduanya terpenuhi, maka kebutuhan untuk mendongkrak kualitas Pendidikan di Perguruan Tinggi bukanlah hal sulit-sulit amat.
Namun, Kembali lagi, siapkah Pemerintah dan Pemangku Kuasa di isntitusi pendidikan untuk bekerja sama ?. Ataukah keduanya akan selalu pisah jalan lantaran ada kelompok yang harus dibuat kaya? ntahlah.
Sumber Harapan
Beberapa waktu lalu, Rapat Paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Kutim membuka mat akita semua, betapa kayanya daerah ini. Bahkan, Bupati Kutim menyebut rancangan KUA dan Rancangan Perubahan PPAS, APBD Kutim tahun 2023 memproyeksikan peningkatan pendapatan daerah sebesar Rp7,4 triliun.
Ini bukan angka yang kecil, sangat fantastis. Namun, siapkah pemerintah dan legislator saling sikut, untuk sekadar mempertengkarkan alokasi anggaran yang besar untuk institusi Pendidikan?
Hari ini, bahkan hingga esok, penulis ataupun pembaca masih akan tetap bertanya, siapkah daerah ini menggenjot Pendidikan yang berkualitas?





