banner 728x90

Sarkowi Apresiasi Peluncuran Gratispol dan Jospol di Kaltim

Samarinda – Langit harapan mulai terbuka bagi para guru dan penjaga rumah ibadah di Kalimantan Timur. Program Gratispol dan Jospol, yang menjadi salah satu janji kampanye Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji, resmi diluncurkan di Convention Hall Sempaja pada Rabu (25/6/2025). Peluncuran program ini mendapat apresiasi dari Sarkowi V Zahry, anggota Komisi IV DPRD Kaltim.

“Ini merupakan pelaksanaan dari janji mereka saat menyampaikan visi misi ketika menjadi calon gubernur dan wakil gubernur. Jadi ini realisasi dari janji-janji beliau. Kita bersyukur karena program ini bisa dilaksanakan lebih cepat dari jadwal,” ujar Sarkowi, mengungkapkan kepuasannya atas percepatan pelaksanaan program.

Menurutnya, program yang semula dijadwalkan berjalan pada 2026 ini bisa dipercepat ke 2025 berkat instruksi Presiden dan dukungan dari Penjabat Gubernur sebelumnya, Akmal Malik. Hal itu memungkinkan adanya pergeseran anggaran yang mendukung implementasi lebih awal.

Gratispol, yang ditujukan untuk 3.187 marbut dan penjaga rumah ibadah lintas agama, akan memberangkatkan para penerima ke destinasi religi sesuai keyakinan mereka. Tujuan keberangkatan mencakup negara-negara seperti Arab Saudi, Vatikan, Yerusalem, India, Thailand, dan Tiongkok.

Sementara itu, Jospol memberikan insentif sebesar Rp500.000 per bulan selama lima tahun kepada 31.545 guru dari jenjang PAUD hingga MTs, termasuk guru di lingkungan pesantren. Program ini akan mulai disalurkan pada Juli 2025.

Sarkowi menegaskan bahwa mekanisme seleksi dilakukan secara ketat oleh Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemprov Kaltim. Ia menyebut bahwa proses verifikasi mencakup pengisian biodata, pengecekan masa kerja, dan dukungan dokumen administratif yang valid.

“Saya sudah telusuri bahwa di Biro Kesra itu ada tim yang menyeleksi. Di biodatanya jelas disebutkan berapa tahun dia menjadi marbut. Sudah ada persyaratan administrasinya,” terangnya.

Meski begitu, Sarkowi tak menampik kemungkinan adanya kekeliruan dalam penyaluran. Namun, ia percaya bahwa kesalahan teknis akan terdeteksi dan bisa menjadi pelajaran untuk penyempurnaan program di masa mendatang.

“Kalau nanti ada yang main-main atau datanya tidak benar, saya kira suatu saat akan terbuka juga. Dan itu bisa menjadi bahan evaluasi untuk pelajaran program berikutnya,” tutupnya.

Program Gratispol dan Jospol hadir sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapat prioritas. Pelaksanaannya diharapkan memberi kontribusi besar terhadap peningkatan kesejahteraan sosial dan mutu pendidikan di Kalimantan Timur. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *