banner 728x90

Pemkab Kutim Optimalkan Lahan Eks Tambang untuk Pertanian Berkelanjutan

Pertanian Berkelanjutan
Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Kutim, Dyah Ratnaningrum. (Kutimzone.com)

Kutimzone.com, ‎Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menunjukkan komitmennya dalam membangun sektor pertanian yang berkesinambungan melalui pemanfaatan lahan pasca-tambang sebagai kawasan budidaya produktif.

‎Langkah strategis ini menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi daerah yang mulai diarahkan pada sektor-sektor yang dapat diperbarui.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menjelaskan bahwa pengembangan lahan eks tambang merupakan peluang besar bagi Kutim untuk memperluas area tanam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sektor tambang.

“Kita memiliki potensi lahan yang luas, termasuk eks tambang. Namun pemanfaatannya harus melalui kajian mendalam agar sesuai dengan peruntukannya,” ujarnya, di Sangatta.

‎Dyah menegaskan bahwa pemerintah daerah saat ini tengah memetakan dan mengkaji sejumlah area pasca-tambang yang berpotensi menjadi sentra produksi pangan baru..

‎Upaya tersebut akan dilakukan secara terencana dan hati-hati mengingat beberapa kawasan memiliki status hukum yang kompleks, seperti berada dalam Hak Guna Usaha (HGU), wilayah adat, atau masih dalam tahap operasional perusahaan tambang.

“Luas lahan kita memang besar, tetapi harus diingat bahwa ada kawasan HGU dan area pertambangan. Itu sebabnya perlu kehati-hatian agar tidak menimbulkan konflik maupun tumpang tindih kepemilikan,” jelasnya.

‎Selain aspek tata ruang, Pemkab Kutim juga menggencarkan kerja sama dengan perusahaan tambang untuk mengarahkan program reklamasi menjadi lebih produktif.

‎Melalui sinergi ini, sejumlah lahan pasca-tambang dinilai berpotensi dikembangkan untuk komoditas pangan dan hortikultura.

“Kalau pasca-tambang dikelola dengan baik, lahan itu bisa produktif kembali. Kita bisa tanam komoditas cepat panen seperti jagung, nanas, atau tanaman hortikultura lainnya,” tambah dia.

Dalam implementasinya, DTPHP Kutim melibatkan perguruan tinggi, kelompok tani, dan berbagai instansi teknis untuk memastikan program ini berjalan secara berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

“Tujuannya agar pengembangan tidak hanya berhenti di konsep, tetapi benar-benar menjadi model pertanian baru yang mandiri dan berdaya saing,” tutup dia. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *