banner 728x90

Pameran Sejarah Islam Kutim Resmi Ditutup, Suguhkan Dakwah dari Makkah ke Sangatta

Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kutim Mulyono
Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kutim Mulyono saat menutup Pameran Sejarah Islam Kutai Timur 2025 di Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta

Sangatta – Napas sejarah Islam berembus kuat di halaman Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta, selama sepekan penuh. Pameran bertajuk “Jejak Peradaban Islam dari Nabi Muhammad SAW hingga Kutai Timur” yang digelar sejak 16 November resmi ditutup pada Sabtu (22/11/2025). Tak sekadar menghadirkan miniatur dan panel sejarah, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran spiritual, budaya, dan edukatif yang menyatu dalam pengalaman visual dan interaktif.

Digagas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, pameran ini menjadi medium efektif untuk mendekatkan generasi muda pada nilai-nilai sejarah Islam, mulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW hingga jejak dakwah Islam di wilayah Kutai Timur.

“Miniatur ini cara paling efektif membantu generasi muda memvisualisasikan sejarah. Mereka bukan hanya membaca, tetapi melihat bentuk nyata yang menggambarkan perjalanan dakwah Islam dari pusat dunia hingga sampai ke Kutai Timur,” ujar Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim.

Pameran tidak hanya menampilkan artefak visual, tetapi juga dilengkapi dengan rangkaian acara yang merangkul berbagai kalangan, mulai dari lomba mewarnai, dongeng sejarah Islam, habsyi, rebana, hingga seminar kebudayaan Islam lokal dan tausiyah. Kegiatan ini menjadi titik temu antara pembelajaran, ekspresi seni, dan penguatan identitas keagamaan.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, yang menutup kegiatan mewakili Bupati Kutai Timur, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk pengurus masjid, komunitas, guru, dan pelajar yang berpartisipasi. Ia menegaskan bahwa pameran ini bukan hanya agenda seremonial, tapi bagian dari pembangunan jangka panjang sektor pendidikan berbasis sejarah.

“Kami ingin pameran ini berkembang, tidak hanya tentang sejarah Islam, tetapi juga sejarah lokal Kutai Timur secara lebih luas. Ke depan, ini akan kita arahkan sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal dan media pembelajaran yang lebih sistematis,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan rencana untuk menyerahkan sebagian elemen pameran sebagai aset edukasi Masjid Agung Al-Faruq, agar semangat literasi sejarah Islam tetap hidup di lingkungan masyarakat.

Momen penutupan pameran dimeriahkan dengan penampilan para pemenang lomba, seperti dongeng sejarah nabi dan pertunjukan rebana. Mulyono secara spontan menyampaikan kekagumannya atas penampilan habsyi yang menurutnya “penuh kejutan dan tak datar.”

“Insyaallah, apa yang kita kerjakan ini bukan hanya menambah kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi amal ibadah bagi kita semua,” tuturnya.

Dengan suksesnya pelaksanaan tahun ini, Pemkab Kutim melalui Disdikbud membuka peluang agar pameran semacam ini dilaksanakan secara rutin dan lebih variatif, dengan harapan bisa menjadi jembatan spiritual dan intelektual bagi masyarakat, khususnya generasi muda. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *