banner 728x90

Agusriansyah: Pendidikan Inklusif Harus Jadi Arah Kebijakan

Samarinda – “Pendidikan unggul bukan hanya hak anak kota.” Pernyataan itu disampaikan Agusriansyah Ridwan, Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, sebagai kritik terhadap kecenderungan program sekolah transformatif seperti Sekolah Garuda yang lebih banyak terpusat di wilayah perkotaan.

Dalam dialog yang berlangsung di Gedung D DPRD Kaltim, Jumat (20/6/2025), Agusriansyah menegaskan bahwa model pendidikan berbasis teknologi dan karakter seharusnya tidak menjadi monopoli kota-kota besar, melainkan diperluas hingga ke desa-desa tertinggal yang justru paling membutuhkan lompatan akses pendidikan.

“Kalau kita mau membentuk generasi emas, maka semua anak harus dapat kesempatan yang sama, termasuk di kampung dan daerah pelosok,” tegasnya.

Agusriansyah juga menyoroti bahwa program unggulan seperti Sekolah Garuda harus dibangun di atas fondasi hukum yang kuat agar tidak mudah terganggu oleh pergantian kepemimpinan atau arah kebijakan jangka pendek.

“Kalau tidak diatur lewat regulasi yang kuat, program ini akan cepat hilang. Pendidikan itu soal masa depan bangsa, bukan ajang coba-coba,” ujarnya.

Ia mengkritik praktik perubahan kurikulum atau program yang terlalu sering berganti, sehingga menyulitkan sekolah dan guru dalam mengembangkan pola pembelajaran yang konsisten dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, Agusriansyah juga mengangkat pentingnya penguatan pendidikan karakter di tengah kemajuan zaman. Menurutnya, nilai-nilai seperti gotong royong, kesederhanaan, hormat pada orang tua, dan semangat kebangsaan adalah elemen penting yang tidak boleh ditinggalkan oleh pendidikan modern.

“Kita boleh modern, tapi jangan lupa jati diri. Jangan sampai anak-anak kita hebat secara teknologi, tapi tidak punya empati dan integritas,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keunggulan suatu bangsa tak hanya diukur dari kemajuan teknologi dan sains, melainkan dari kualitas moral dan keadilan dalam akses pendidikan. Model seperti Sekolah Garuda, menurutnya, harus mengintegrasikan semua aspek itu.

“Sekolah unggulan harus menjadi miniatur bangsa: cerdas, adil, dan berkarakter,” tuturnya.

Agusriansyah mengajak semua pihak, baik pemerintah daerah, pusat, maupun masyarakat, untuk menjadikan pemerataan pendidikan sebagai komitmen bersama, demi membangun generasi Indonesia yang bukan hanya hebat di atas kertas, tapi juga mulia dalam laku dan perilaku. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *