Kutimzone.com, Sangatta – Ancaman Hepatitis B tidak bisa dihadapi dengan cara biasa. Menyadari hal itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) mengambil langkah serius dengan menyelenggarakan pelatihan teknis bagi tenaga medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Kutim dalam mendukung target eliminasi Hepatitis B nasional pada 2030. Pelatihan digelar atas kolaborasi antara Dinkes Kutim dan Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kalimantan Timur, dengan menyasar petugas layanan di Puskesmas dan klinik.
Plt. Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa tenaga kesehatan adalah ujung tombak dalam perang melawan Hepatitis B. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan teknis sangat dibutuhkan agar penanganan di lapangan berjalan optimal.
“Ini bagian dari persiapan kita menuju eliminasi Hepatitis B. Mereka yang ada di Puskesmas harus bisa mengenali, menangani, dan melaporkan kasus dengan baik. Jangan sampai ada kasus terlewat,” ujarnya pada Selasa (18/11/2025) lalu.
Dalam pelatihan ini, peserta dibekali pemahaman tentang skrining dini, alur rujukan, prosedur penatalaksanaan klinis, hingga pencatatan laporan berbasis sistem nasional.
Sumarno menjelaskan bahwa pelayanan Hepatitis B harus bersifat komprehensif, terintegrasi dengan layanan dasar, dan memenuhi standar mutu. “Kita ingin mereka tidak hanya melayani, tapi mampu mengelola data dengan tepat sebagai dasar kebijakan,” jelasnya.
Selain itu, pelatihan ini juga difungsikan sebagai forum memperkuat kerja sama antartenaga medis lintas wilayah. “Kita butuh koordinasi yang solid, karena tantangan di lapangan sangat dinamis,” tambah Sumarno.
Ia menekankan pentingnya menyebarluaskan hasil pelatihan agar dapat diaplikasikan langsung di masing-masing wilayah kerja.
“Kami minta peserta segera menularkan ilmunya di lapangan. Ini bukan pelatihan biasa, tapi langkah nyata menuju Kutim bebas Hepatitis B,” tegasnya.
Dinkes Kutim optimistis bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan ini akan memberi dampak signifikan terhadap penurunan kasus Hepatitis B. Langkah ini juga dinilai sebagai pondasi penting dalam pencapaian target kesehatan nasional secara menyeluruh. (ADV/RI).





