Kutimzone.com, Sangatta – Predikat Madya bukan garis akhir. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini memacu upaya menuju predikat Kota Layak Anak (KLA) tingkat Nindya, usai dua tahun berturut-turut hanya mencapai kategori Madya dalam penilaian nasional.
Nurhaya, Perencana Ahli Muda pada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3A) Kutim, menegaskan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum loncatan Kutim dalam sistem perlindungan anak.
“Selama tiga tahun awal kita berada di Pratama, lalu dua tahun ini di Madya. Sekarang saatnya melangkah lebih tinggi ke Nindya. Itu target realistis dan harus kita kejar bersama,” ujarnya pada Rabu (19/11/2025), saat evaluasi KLA di Kantor Bappedda.
Hasil evaluasi tahun 2025 mengacu pada kinerja 2024, dan meskipun penilaian provinsi sempat memberi harapan untuk naik ke kategori Utama, verifikasi dari pemerintah pusat tetap menetapkan Kutim di level Madya.
Menurut Nurhaya, salah satu penghambat utama adalah belum adanya regulasi khusus dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) tentang KLA. “Rancangannya sudah dibahas di DPRD, tapi belum tuntas. Padahal, perda itu akan memperkuat struktur dukungan regulasi lain seperti SK Bupati dan SOP teknis,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk bisa melaju ke kategori yang lebih tinggi, tidak cukup hanya bergantung pada kinerja pemerintah. Empat pilar yang terdiri dari pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan media harus terlibat aktif dalam proses ini.
“Sinergi itu penting. Misalnya restoran bisa menyediakan sudut ramah anak, media bisa membantu edukasi publik. Semua pihak punya kontribusi,” katanya.
Dari sisi teknis, salah satu tantangan yang dihadapi Kutim adalah keterbatasan dokumen dukung dan indikator pembuktian dari sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Hal ini sering membuat proses verifikasi pusat kurang optimal.
Karena itu, DP3A Kutim berencana memperkuat koordinasi lintas sektor, melengkapi seluruh dokumen pendukung, dan menggerakkan lebih banyak elemen masyarakat untuk terlibat dalam pencapaian KLA.
“Jika seluruh komponen bergerak, bukan tidak mungkin kita tembus Nindya tahun depan,” pungkas Nurhaya optimistis. (ADV/RI).





