banner 728x90

DPPKB Kutim Kini Jadi Panutan Usai Berhasil Turunkan Angka Kasus Stunting

Kepala DPPKB Kutim pada acara diseminasi hasil verifiakasi dan keluarga beresiko stunting. (Istimewa)

Kutimzone.com, Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi sorotan nasional berkat keberhasilan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) dalam menekan angka stunting secara signifikan. Prestasi ini mencuri perhatian banyak pihak dan menginspirasi berbagai instansi, yang tak segan melayangkan pujian kepada DPPKB Kutim atas kerja keras dan dedikasinya dalam menangani masalah stunting.

Acara penghargaan yang digelar baru-baru ini dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Sekretaris Kabupaten (Seskab) Kutim Rizali Hadi, Ketua DPRD Kutim Jimmi, dan perwakilan dari Polres, Kodim 0909/KTM, Lanal, Kejaksaan Negeri, serta Pengadilan Negeri Kutim.

Dalam sambutannya, Rizali Hadi, yang mewakili Pjs Bupati HM Agus Hari Kesuma, menekankan bahwa keberhasilan ini sejalan dengan visi besar Indonesia menuju 2045, di mana keluarga berperan sebagai pondasi utama dalam membangun masyarakat sehat dan berdaya.

“Keluarga adalah pondasi masyarakat. Program Pemkab Kutai Timur melalui DPPKB selaras dengan visi Indonesia Emas 2045, bebas dari stunting,” ujar Rizali Hadi dengan penuh apresiasi.

Menekan Angka Stunting, Kutim Cetak Pencapaian

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaedi, menjelaskan bahwa peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) kali ini menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya membangun keluarga yang kuat dan terbebas dari stunting.

Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting di Kutim adalah hasil kolaborasi intensif berbagai pihak yang terlibat, termasuk pemerintah daerah, masyarakat, serta perusahaan yang menjadi mitra dalam program ini.

“Ini adalah tugas yang berat, namun kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari berbagai pihak sangat penting dalam setiap upaya yang kami lakukan,” kata Achmad Junaedi.

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah keluarga berisiko stunting di Kutim mengalami penurunan cukup signifikan. Pada Juni 2024, terdapat 15.576 keluarga yang teridentifikasi berisiko tinggi.

Namun, berkat sinergi lintas sektoral yang dilakukan DPPKB bersama mitra terkait, angka ini berhasil ditekan hingga mencapai 12.362 keluarga pada akhir September 2024. Pencapaian ini adalah sebuah kemajuan yang membanggakan, meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Tak hanya itu, jumlah anak yang mengalami stunting di Kutim juga terus menurun. Pada Juni 2024, tercatat sebanyak 1.801 anak mengalami stunting, namun angka ini turun menjadi 1.748 anak pada akhir September 2024.

Meski penurunan ini tampak kecil, tren positif ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan memberikan hasil yang nyata bagi masyarakat Kutim.

Secara lebih rinci, Kecamatan Muara Bengkal tercatat sebagai wilayah dengan angka kasus stunting tertinggi, yakni sebanyak 224 anak.

Sementara itu, Kecamatan Batu Ampar memiliki jumlah kasus terendah, hanya lima anak. Data ini menjadi indikator penting bagi DPPKB Kutim untuk terus memfokuskan program intervensi di daerah-daerah yang memerlukan perhatian lebih.

Penghargaan bagi Pahlawan Pengentasan Stunting

Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi berbagai pihak dalam pengentasan stunting, DPPKB Kutim memberikan apresiasi khusus kepada individu, kelompok, dan perusahaan yang dinilai berperan penting dalam keberhasilan ini. Penghargaan tersebut bukan hanya diberikan kepada pihak-pihak di tingkat kabupaten, tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi signifikan di tingkat nasional.

Acara yang penuh suasana apresiasi ini diharapkan mampu memotivasi lebih banyak pihak untuk ikut serta dalam upaya kolektif menuju Indonesia bebas stunting pada 2045. Harapannya, dengan dukungan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah, kasus stunting di Kutim bisa terus ditekan hingga mencapai nol pada tahun-tahun mendatang.

“Kami sangat mengapresiasi semua pihak yang telah bekerja sama dalam upaya ini. Semoga pencapaian ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk turut mewujudkan visi Indonesia tanpa stunting,” tutup Achmad Junaedi dengan harapan yang optimis. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *