Sangatta – Kecamatan Long Mesangat semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai pusat produksi padi unggulan di Kabupaten Kutai Timur. Dengan luas lahan siap panen mencapai 70 hektare, wilayah ini menjadi andalan dalam menopang ketahanan pangan lokal di tengah tantangan defisit beras yang masih membayangi daerah.
Keunggulan Long Mesangat terletak pada penggunaan benih berkualitas seperti varietas Mekongga, yang dikenal mampu menghasilkan panen melimpah. Tak hanya itu, wilayah ini kini dipersiapkan sebagai lokasi penangkaran benih padi unggul seluas 2,5 hektare oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim.
“Penangkaran ini bertujuan menyediakan benih padi unggul yang nantinya akan disebarkan kepada kelompok tani. Dengan begitu, produktivitas pertanian bisa semakin meningkat,” kata Kabid Tanaman Pangan DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Fitrisia, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2025).
Tahun lalu, Long Mesangat mencatatkan hasil panen mencapai 6,5 ton per hektare, angka yang tergolong tinggi berkat metode tanam yang baik dan pemanfaatan varietas unggulan. Keberhasilan ini mendorong pemerintah daerah untuk memperluas peran Long Mesangat tidak hanya sebagai sentra produksi, tetapi juga pusat distribusi benih padi berkualitas bagi seluruh Kutim.
Sementara itu, dua wilayah lainnya, Koubun dan Kongbeng, juga menunjukkan kontribusi signifikan sebagai sentra padi. Namun, menurut DTPHP, Long Mesangat memiliki potensi lebih besar karena karakteristik lahannya yang mendukung kegiatan pertanian intensif dan terfokus.
Meski produktivitas padi meningkat, Kabupaten Kutai Timur masih menghadapi kekurangan pasokan beras secara signifikan. Data mencatat, kebutuhan beras masyarakat mencapai 38.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru berkisar antara 14.000 hingga 20.000 ton.
Untuk menutup celah defisit tersebut, pemerintah mengalokasikan dana APBN guna mengoptimalkan 230 hektare lahan sawah potensial di berbagai kecamatan. Upaya ini ditargetkan mampu menambah luas lahan produktif dan menekan ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah.
“Dengan optimalisasi lahan dan pengembangan benih unggul, kami optimistis produksi beras Kutim bisa meningkat signifikan. Ini langkah menuju swasembada pangan,” pungkas Dessy.
Inisiatif ini menjadi harapan baru bagi Kutai Timur dalam membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan, serta mengangkat derajat petani lokal melalui akses terhadap benih unggul dan teknologi pertanian yang lebih baik. (ADV).





