banner 728x90

Limbah Disulap Jadi Busana Keren di Panggung Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan penghargaan kepada pemenang fahionshow di Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman saat memberikan penghargaan kepada pemenang fahionshow di Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025

Kutim – Alunan musik tradisional menggema, berpadu gemerlap cahaya modern di Alun-alun Bukit Pelangi, menciptakan harmoni unik antara masa lalu dan masa depan. Di tengah atmosfer yang syahdu namun semarak itu, Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025 mencapai puncaknya, menyampaikan pesan penting tentang pelestarian budaya dan tanggung jawab ekologis generasi muda.

Penutupan festival pada Minggu (23/11/2025) tak hanya menjadi panggung hiburan, melainkan juga ruang ekspresi kreativitas anak muda Kutim. Lomba Fashion Show Berbahan Limbah yang digelar dalam rangkaian acara tersebut menghadirkan busana-busana inovatif dari material bekas, mengubah sampah menjadi karya seni yang berdaya pikat.

Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, bersama Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah, secara langsung menyerahkan penghargaan kepada para pemenang. Kehadiran mereka menjadi penegasan atas komitmen pemerintah mendukung kegiatan yang memperkuat identitas budaya sekaligus menumbuhkan kesadaran lingkungan.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin budaya tetap hidup di tengah masyarakat, sembari memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berkreasi secara bertanggung jawab,” ujar Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, saat memberi sambutan.

Keysha Adistia Amira keluar sebagai Juara Pertama berkat rancangan busana yang memadukan unsur etnik dan bahan daur ulang dengan presisi. Jasmine Syafiqa Fateen dan Siti Aisyah Hafidzah masing-masing menyusul di posisi kedua dan ketiga, membuktikan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari hal yang tak disangka: sampah.

Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025 menjadi bukti bahwa warisan budaya bisa terus relevan jika dikemas dengan pendekatan segar dan inovatif. Lomba fashion limbah menjadi ikon malam itu—sebuah simbol bagaimana generasi muda mampu menjembatani nilai tradisi dengan semangat keberlanjutan.

Festival ini pun ditutup dengan harapan besar: agar budaya lokal dan kesadaran lingkungan terus tumbuh berdampingan, mengakar di hati generasi masa depan Kutai Timur. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *