banner 728x90

Pameran Sejarah Islam di Kutim, Pelajar Antusias Belajar 

Pembukaan pameran Sejarah Nabi dan Rasul di Sangatta
Pembukaan pameran Sejarah Nabi dan Rasul di Sangatta (Kutimzone.com)

Sangatta – Masyarakat Kutai Timur disuguhi pendekatan baru dalam mempelajari sejarah Islam melalui Pameran Sejarah Nabi & Rasul yang digelar di kawasan Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta. Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri karena menyajikan narasi keagamaan dengan konsep visual interaktif yang jarang ditemui.

Digelar selama tujuh hari, pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim dan Galeri Al-Jabar Bandung, lembaga yang dikenal luas atas kontribusinya dalam pameran sejarah Islam berskala nasional.

Pengunjung diajak menyusuri jejak para nabi melalui miniatur artefak sejarah Islam, galeri visual perjalanan kenabian, dan replika kawasan suci seperti Makkah dan Ka’bah pada masa awal dakwah. Semua sajian ini didampingi pemandu edukatif agar setiap informasi tersampaikan dengan mudah dan menarik.

“Kegiatan ini sangat tepat untuk memperkuat literasi sejarah Islam, terutama bagi pelajar. Kami ingin mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menyaksikan langsung gambaran sejarahnya,” ujar Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Minggu (16/11/2025).

Menurut Padliyansyah, antusiasme kalangan pelajar sangat tinggi. Disdikbud telah menjadwalkan ribuan siswa dari tingkat dasar hingga menengah untuk berkunjung secara bergiliran, dengan pendampingan guru dan edukator.

Sebagai pelengkap edukasi, disiapkan pula pelatihan sejarah Islam bagi guru mata pelajaran agama dan komunitas kajian. Tujuannya, memperluas pemahaman serta mendorong penguatan nilai-nilai Islam dalam proses belajar mengajar.

Tidak hanya menyajikan pameran statis, kegiatan ini juga dirangkai dengan pemutaran film dokumenter sejarah Islam, diskusi tematik, dan forum tanya jawab bersama tim Galeri Al-Jabar.

“Penting bagi daerah untuk membuka ruang literasi spiritual seperti ini. Sejarah bukan hanya narasi masa lalu, tapi fondasi nilai yang membentuk karakter,” lanjut Padliyansyah.

Pemerintah Kutim berharap pameran ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi pijakan kuat dalam membentuk karakter religius generasi muda melalui pendekatan edukatif yang menyenangkan. (ADV/RI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *