banner 728x90

Gerakan Dua Jam Mengaji di Kutim Libatkan Sekolah dan Komunitas

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono (Kutimzone.com)

Kutimzone.com, Sangatta – Di tengah terpaan budaya digital yang mengikis nilai-nilai moral, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengambil langkah strategis melalui penambahan dua jam pelajaran mengaji di sekolah. Kini, program ini tak hanya menjadi kebijakan pendidikan, tapi telah menjelma sebagai gerakan bersama antara sekolah, orang tua, guru mengaji, hingga komunitas keagamaan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian penting dalam memperkuat pendidikan karakter generasi muda.

“Kami ingin siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam moral dan spiritual. Karena itu, kami tambah dua jam pelajaran mengaji setiap minggu,” ujarnya saat membuka pelatihan metode pembelajaran Ummi di Hotel Royal Victoria Sangatta Utara, Senin (17/11/2025) lalu.

Program ini dimasukkan ke dalam muatan lokal (mulok), sehingga memiliki landasan kurikulum yang jelas. Namun implementasinya melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh agama, pengurus masjid, dan lembaga pendidikan keagamaan untuk memastikan mutu pembelajaran tetap terjaga.

“Guru mengaji tidak boleh sukarela. Mereka harus mendapatkan honor resmi dari pemerintah agar program ini berkelanjutan,” tegas Mulyono.

Pendekatan inklusif juga diterapkan. Siswa non-Muslim memperoleh pembinaan karakter berbasis agama masing-masing, dengan pendampingan dari tokoh keagamaan setempat.

“Untuk siswa non-Muslim, disiapkan kegiatan pembinaan karakter sesuai keyakinannya. Intinya sama, semua diarahkan pada penguatan moral dan etika,” tambahnya.

Di sejumlah wilayah pedesaan, masyarakat mulai ikut ambil bagian dalam pelaksanaan program ini. Ada yang menyediakan tempat tambahan, mendukung logistik kegiatan, hingga mengawasi langsung pelaksanaan di sekolah. Kolaborasi ini menciptakan ruang pendidikan karakter yang tidak hanya berjalan di dalam kelas, tetapi juga tumbuh di lingkungan sosial.

Mulyono menilai bahwa perkembangan digital yang cepat membuat anak-anak kian rawan terhadap kehilangan arah moral. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi krusial untuk membangun generasi berilmu yang tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual.

Program dua jam mengaji ini kini menjadi cerminan pendidikan holistik di Kutim—menggabungkan kecerdasan, akhlak, dan toleransi—sekaligus menjadi fondasi bagi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dengan nilai moral yang kokoh. (ADV/RI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *