banner 728x90

Mulyono: Festival Budaya Kutim 2025 Jadi Ruang Ekspresi Tradisi

Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur. (Kutimzone.com)
Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur. (Kutimzone.com)

Sangatta – Di bawah gemerlap lampu panggung dan semarak tepuk tangan, Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025 menjelma menjadi panggung hidup yang merayakan akar tradisi dan harapan baru. “Seni adalah denyut napas masyarakat,” demikian makna yang terasa kuat sepanjang gelaran di Alun-alun Bukit Pelangi, yang ditutup meriah pada Minggu (23/11/2025) malam.

Selama tiga malam berturut-turut, warga Sangatta dan sekitarnya larut dalam pertunjukan seni yang mencerminkan kekayaan budaya Kutai Timur. Festival ini menyuguhkan ragam atraksi dari komunitas pesisir, pedalaman, hingga kesenian nusantara, menjadi ruang inklusif bagi seniman lokal untuk mengekspresikan jati diri kultural mereka.

Pada malam puncak, nuansa tradisional semakin kental lewat Tari Huda Medang Sengeatteak, dilanjutkan penampilan Tarsul oleh Zahud Fauzi Abror dan Nur Alya Anugerah Putri. Lantunan syair klasik dan gerakan simbolik menghadirkan nostalgia yang menggetarkan, menunjukkan bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

“Kami laporkan juga bahwasanya untuk tahun 2026 ini sudah kita plotingkan untuk kegiatan pelatihan khususnya kepada para pelatih kesenian-kesenian tradisional seperti kesenian Jepen, Tingkilan, maupun juga Tarsul,” ujar Mulyono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur.

Ia menjelaskan, pelatihan itu bertujuan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dalam seni budaya serta menciptakan pelatih bersertifikat yang siap mengembangkan potensi seni hingga ke tingkat desa.

Lebih jauh, Mulyono menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan kebutuhan hiburan masyarakat. Ia berharap kesenian tradisional dan permainan lokal dapat lebih sering ditampilkan agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Puncak acara juga diwarnai penampilan Fanny Soegi yang menyuguhkan delapan lagu, termasuk “Asmalibrasi”, membangkitkan antusiasme warga yang telah lama merindukan pertunjukan musik berskala besar.

Festival ini tak hanya memamerkan seni, tetapi juga memberi ruang apresiasi bagi generasi muda. Dalam lomba fashion show berbahan limbah, Keysha Adistia Amira keluar sebagai juara pertama, mengusung kostum daur ulang yang kreatif dan inspiratif.

Dukungan penuh dari Disdikbud, komunitas seni, dan penyelenggara menjadikan Festival Pesona Budaya Kutim 2025 sebagai pijakan penting dalam pengembangan pendidikan kebudayaan di masa depan. Peristiwa ini membuktikan bahwa kebudayaan mampu menjembatani sejarah dan masa depan dalam satu panggung yang utuh dan hidup. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *