banner 728x90

Disdikbud Kutim Siapkan Dua Buku Sejarah dan Kebudayaan Daerah

Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim
Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim

Sangatta – Di tengah penutupan Pameran Sejarah Islam di Masjid Agung Al-Faruq, Sabtu (22/11/2025), sebuah rencana strategis diumumkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), khususnya bidang kebudayaan, Pemkab akan menerbitkan dua buku penting yang mengangkat khazanah sejarah dan budaya daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menyampaikan bahwa buku pertama akan mengangkat sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Kutai Timur, mulai dari masa awal penyebaran hingga kontribusi tokoh lokal. Buku kedua akan memuat kekayaan seni dan budaya Kutim, mencakup tradisi, kesenian, dan ekspresi budaya dari berbagai etnis yang hidup berdampingan di wilayah ini.

“Kami sedang menyusun dua buku. Pertama, tentang sejarah masuknya Islam ke Kutai Timur, dan yang kedua mengenai kebudayaan dan seni yang hidup di tengah masyarakat Kutim,” ungkap Padliyansyah saat ditemui di sela-sela acara di Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta Utara.

Menurutnya, penerbitan dua buku ini merupakan tindak lanjut dari berbagai kegiatan kebudayaan yang telah digelar sepanjang tahun, termasuk pameran sejarah Islam dan Festival Pesona Budaya Kutim 2025. Ia menekankan pentingnya dokumentasi sebagai fondasi penguatan identitas daerah sekaligus media edukasi generasi muda.

“Kalau tidak kita tulis sekarang, banyak sejarah lokal akan hilang. Kita ingin buku ini bisa digunakan sebagai referensi pembelajaran, bahan ajar muatan lokal, dan dokumentasi resmi daerah,” jelasnya.

Rencana ini juga menjadi bagian dari roadmap pengembangan ekosistem kebudayaan Kutim. Dengan dokumentasi tertulis yang sistematis, pihaknya berharap bisa menghadirkan narasi besar sejarah dan kebudayaan daerah yang tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga abadi dalam lembaran literasi.

Padliyansyah menambahkan bahwa proses pengumpulan data sudah dimulai, termasuk wawancara dengan tokoh adat, penelusuran dokumen lama, dan pelacakan jejak sejarah Islam melalui peninggalan lokal.

“Buku ini juga akan menyertakan perspektif budaya dari berbagai suku yang ada di Kutim—Kutai, Dayak, Jawa, Bugis, Banjar, Toraja, dan lainnya. Semua punya kontribusi dalam membentuk kebudayaan kita,” tambahnya.

Dengan adanya dua buku tersebut, Pemkab Kutim berharap masyarakat dapat memiliki akses pengetahuan yang lebih mendalam tentang jati diri budaya mereka sendiri, dan memperkuat kebanggaan terhadap warisan daerah. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *