Sangatta – Angka 7.502 bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata antusiasme publik dalam menggali sejarah Islam melalui pendekatan visual. Pameran bertajuk “Jejak Peradaban Islam dari Nabi Muhammad SAW hingga Kutai Timur” yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur sejak 16 November resmi ditutup pada Sabtu (22/11/2025) di area Masjid Agung Al-Faruq, Sangatta.
Dengan mayoritas pengunjung berasal dari kalangan pelajar, pameran ini menjadi ajang edukasi budaya dan agama yang sukses menyita perhatian masyarakat. Selama enam hari pelaksanaan, grafik pengunjung terus meningkat, dari 670 orang di hari pertama hingga menembus 1.741 orang pada hari terakhir.
“Antusiasme masyarakat luar biasa, terutama pelajar. Total pengunjung mencapai 7.502 orang, ini membuktikan pendekatan visual seperti miniatur sejarah sangat efektif menarik minat generasi muda,” ujar Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim.
Ia menambahkan bahwa tren peningkatan jumlah pengunjung setiap hari menunjukkan relevansi dan daya tarik konten yang disajikan. Selain miniatur peristiwa sejarah Islam dunia, materi lokal seperti sejarah Islam pada masa Kerajaan Kutai dan peran tokoh daerah dalam dakwah Islam juga turut disorot.
“Miniatur ini cara paling efektif membantu generasi muda memvisualisasikan sejarah. Mereka bukan hanya membaca, tetapi melihat bentuk-bentuk nyata yang menggambarkan perjalanan dakwah Islam dari pusat dunia hingga sampai ke Kutai Timur,” tambah Padliyansyah.
Pameran juga diramaikan dengan berbagai agenda pendukung, seperti lomba mewarnai, lomba habsi, cerita kisah nabi, seminar sejarah Islam di Kutim, serta tausiyah yang menghadirkan Ustaz Imam Nur Faqih dari IKADI. Semua kegiatan ini dirancang untuk merangkul pelajar dan masyarakat luas melalui pendekatan edukatif dan religius.
Disdikbud Kutim kini berencana menjadikan pameran sejarah ini sebagai kegiatan tahunan, dengan cakupan materi yang diperluas mencakup sejarah lokal lainnya. Rencana ini juga diarahkan untuk mendukung kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah.
“Kami ingin pameran ini berkembang, tidak hanya tentang sejarah Islam, tetapi juga sejarah lokal Kutai Timur yang lebih luas. Targetnya, kegiatan ini bisa menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal dan media pembelajaran bagi sekolah,” ujarnya.
Sebagai penutup, Padliyansyah menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari pengurus masjid, komunitas budaya, sekolah, hingga masyarakat umum. Ia berharap kegiatan semacam ini terus diperkuat untuk meningkatkan literasi sejarah dan budaya di kalangan generasi muda. (ADV).





