
SANDARAN, KUTAI TIMUR — Persoalan infrastruktur jalan masih menjadi salah satu pekerjaan rumah besar yang dirasakan masyarakat Desa Manubar Dalam, Kecamatan Sandaran, Kabupaten Kutai Timur. Warga berharap akses jalan yang menghubungkan Desa Manubar Dalam menuju Kecamatan Sangkulirang dapat segera mendapat perhatian dan peningkatan kualitas.
Seorang warga Desa Manubar Dalam yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengatakan, kondisi jalan menjadi persoalan utama yang hingga kini masih dirasakan masyarakat. Akses utama menuju Sangkulirang yang sebagian besar masih berupa jalan tanah membuat mobilitas warga belum berjalan maksimal.

“Persoalan besar di desa sini masalah jalan. Kami berharap jalan di Kecamatan Sandaran, khususnya akses dari Manubar Dalam menuju Sangkulirang, bisa segera diperbaiki dan diaspal,” ujar warga tersebut.
Menurutnya, kondisi jalan juga semakin berat ketika dilalui kendaraan dengan muatan berat. Warga menyebut masih terdapat kendaraan pengangkut kayu yang melintas di sejumlah ruas jalan dan berpotensi mempercepat kerusakan jalan.
Untuk penanganan sementara, masyarakat melakukan upaya swadaya. Setiap kendaraan pengangkut kayu yang melintas diminta memberikan kontribusi sebesar Rp300 ribu. Dana tersebut kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk membantu menimbun dan memperbaiki titik-titik jalan yang rusak.
“Untuk sementara ini solusinya, setiap ada mobil muat kayu ada uang kontribusi Rp300 ribu. Uangnya digunakan masyarakat untuk menimbun jalan yang rusak,” ungkapnya.

Namun, warga menilai persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya diselesaikan melalui swadaya masyarakat. Dengan kondisi jalan yang cukup panjang dan menjadi akses antarkecamatan, diperlukan intervensi pemerintah daerah maupun pihak terkait.
Warga menyebut akses dari Desa Manubar Dalam menuju Sangkulirang memiliki panjang sekitar 80 kilometer. Hingga kini, sebagian besar jalur tersebut masih berupa jalan tanah.
Kondisi itu juga tidak lepas dari sejarah pembukaan akses jalan di wilayah tersebut. Menurut warga, jalan tersebut pada awalnya dibuka untuk mendukung aktivitas perusahaan perkebunan kelapa sawit. Sementara itu, pembangunan jalan desa yang selama ini dilakukan pemerintah lebih banyak menyentuh kawasan permukiman masyarakat.
“Yang membuka jalan itu perusahaan sawit. Jadi untuk pengaspalan jalan tidak pernah sampai ke sini. Kalau jalan desa paling di sekitar perumahan masyarakat saja,” jelasnya.
Warga memahami bahwa peningkatan jalan poros menuju Sangkulirang membutuhkan anggaran dan kebijakan dengan skala yang lebih besar. Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah dapat menjadikan akses tersebut sebagai salah satu prioritas pembangunan infrastruktur di wilayah pesisir Kutai Timur.
Bagi masyarakat Desa Manubar Dalam, jalan bukan sekadar sarana transportasi, tetapi menjadi urat nadi yang menghubungkan warga dengan pusat pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, hingga aktivitas ekonomi lainnya.
“Kami berharap jalan dari Manubar Dalam ke Sangkulirang bisa bagus dan diaspal. Karena kalau masih tanah seperti sekarang, masyarakat yang paling merasakan dampaknya,” harap warga tersebut.
Masyarakat pun berharap mimpi memiliki jalan mulus dari Desa Manubar Dalam menuju Sangkulirang tidak berhenti sebagai harapan. Dengan panjang akses sekitar 80 kilometer, peningkatan jalan dinilai akan memberikan dampak besar bagi konektivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kecamatan Sandaran dan wilayah sekitarnya.
Warga Menanti Perhatian Pemerintah
Harapan masyarakat sederhana: akses jalan yang aman dan layak untuk dilalui. Kondisi jalan yang masih didominasi tanah dinilai menjadi kendala dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika kondisi cuaca membuat sejumlah titik jalan sulit dilalui.

Karena itu, warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat melihat langsung kondisi jalan tersebut dan menyusun langkah penanganan secara bertahap.
Bagi warga Manubar Dalam, pembangunan jalan bukan hanya soal memperbaiki permukaan jalan, tetapi juga membuka akses yang lebih luas terhadap berbagai peluang. Jalan yang layak diharapkan dapat memperlancar distribusi hasil pertanian dan perkebunan, mengurangi hambatan transportasi serta meningkatkan konektivitas masyarakat dengan wilayah Sangkulirang.
Kini, masyarakat hanya berharap akses sekitar 80 kilometer tersebut perlahan berubah dari jalan tanah menjadi jalan yang lebih layak dan mantap.
“Kami ingin jalan ini diperhatikan. Jalan bagus akan memudahkan masyarakat dalam semua aktivitas,” harapnya. (*)
