Kutimzone.com, Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) merupakan salah satu kabupaten terluas di Indonesia. Dengan luas wilayah mencapai 27.263 kilometer persegi, Kutim memiliki beragam potensi sumber daya alam, baik di daratan maupun di lautan.
Namun, dibalik potensinya yang besar, Kutim juga memiliki sejumlah tantangan, terutama di daerah-daerah terpencil.
Salah satu tantangan yang dihadapi di daerah terpencil Kutim adalah kekurangan infrastruktur dasar. Hal ini diakui oleh Anggota DPRD Kutim Sayid Anjas.
Dalam wawancara dengan awak media belum lama ini, Anjas menyoroti kekurangan air bersih, listrik, dan sinyal telekomunikasi di daerah-daerah terpencil Kutim.
“Daerah Sandaran, Tanjung Mangkalihat, dan Busang, disana belum memiliki akses lampu, air, bahkan sinyal yang memadai,” ujar Anjas.
Anjas mengungkapkan bahwa distribusi air di Kaliorang, Kaubun, dan Karangan, juga masih belum optimal. Ia menggarisbawahi urgensi membantu masyarakat yang kesulitan mengakses air bersih, terutama di wilayah pedesaan.
“Mereka paling kasihan disana, apalagi itu kebutuhan dasar seharusnya yang paling utama di bantu,” tambahnya.
Anjas melanjutkan dengan mengungkapkan alokasi anggaran yang telah disiapkan untuk memperbaiki situasi ini.
“Tahun 2024, ada anggaran sebesar 25 miliar yang akan digunakan untuk distribusi pipa. Namun, progres di daerah seperti Telen dan Sandaran masih perlu diperhatikan,” katanya.
Selain masalah PDAM, akses listrik juga menjadi fokus perhatian Anjas. Ia menekankan perlunya upaya untuk memperluas cakupan listrik ke pedalaman, khususnya melalui energi terbarukan.
“Pemkab boleh menganggarkan ke pedalaman, terutama dengan pemanfaatan panel surya yang dapat menjadi solusi terdepan jika PLN tidak siap membangun sampai ke wilayah pedalaman,” tandasnya.
Anjas juga mencermati kendala akses sinyal yang menghambat program-program seperti beasiswa bagi masyarakat.
“Masyarakat terkendala mengakses program-program seperti beasiswa karena tidak ada sinyal. Ini perlu penanganan serius agar potensi masyarakat tergali optimal,” pungkasnya.
Kekurangan infrastruktur dasar di daerah terpencil Kutim tentunya menjadi tantangan yang serius. Hal ini dapat menghambat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Akses air bersih yang memadai merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi masyarakat. Air bersih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti minum, mandi, mencuci, dan memasak.
Akses listrik yang memadai juga menjadi kebutuhan dasar yang penting bagi masyarakat. Listrik diperlukan untuk memenuhi kebutuhan penerangan, peralatan elektronik, dan industri.
Akses sinyal telekomunikasi yang memadai juga menjadi kebutuhan dasar yang penting bagi masyarakat. Sinyal telekomunikasi diperlukan untuk mengakses informasi, berkomunikasi, dan bertransaksi secara digital.
“Pemerintah Kabupaten Kutim perlu segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini. Seperti, meningkatkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur dasar. Mendorong pemanfaatan energi terbarukan untuk memperluas cakupan listrik. Dan membangun infrastruktur telekomunikasi yang memadai,” tandasnya.


