banner 728x90

PPDB di Kutai Timur: Anggota DPRD Mendorong Solusi Ruang Kelas Baru

SANGATTA – Anggota DPRD Kutai Timur (Kutim), Sayid Anjas, menyampaikan harapannya terkait dengan integrasi data sekolah dan kebutuhan akan pembangunan ruang kelas baru dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang dihadiri oleh kepala SMA/SMK Negeri se-Kota Sangatta.

Pada RDPU tersebut, dibahas masalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk siswa SMA dan SMK Negeri Sederajat. Sayid Anjas menyoroti isu penting ini dalam konteks pertumbuhan jumlah siswa yang telah diterima.

“Dalam RDP ini, kita membahas persoalan PPDB untuk siswa SMA dan SMK Negeri Sederajat,” ungkapnya.

RDPU ini juga dihadiri oleh perwakilan UPT Disdikbud Kaltim Wilayah II Wagima dan anggota dewan lainnya.

Sayid Anjas menjelaskan bahwa SMA Negeri sederajat hanya mampu menampung sekitar 3.500 siswa, sementara jumlah siswa lulusan SMP tahun ini mencapai 5.000 orang. Hal ini berarti ada kekurangan ruang kelas atau kelas untuk menampung siswa-siswa ini.

“Jadi disarankan untuk mengalihkan siswa ke sekolah swasta saja, karena masalah kurangnya ruang belajar atau kelas dan karena tingginya jumlah siswa yang lulus dari SMP dan mendaftar di PPDB,” tegasnya.

Sayid Anjas menekankan bahwa masalah ini merupakan kewenangan provinsi, dan ia menganjurkan agar pihak provinsi secara langsung harus membangun ruang kelas baru.

“Jadi, banyak siswa yang tidak dapat tertampung, dan untuk saat ini, jumlahnya tidak dapat ditentukan karena proses integrasi data antara SMA dan SMK sederajat,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa data ini akan selesai setelah siswa-siswi mendaftar ulang dan diterima di sekolah. Setelah itu, baru ruang kelas baru dapat dibangun.

Menurut Sayid Anjas, penambahan ruang kelas baru adalah suatu keharusan karena kuota yang ada tidak mencukupi. Tujuannya adalah agar semua siswa-siswi dapat menerima pendidikan dengan layak.

“Kita ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan harapan mereka. Bahkan, di SMAN 1, siswa-siswi sudah harus belajar di ruang perpustakaan atau laboratorium,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *