banner 728x90
Opini  

Dream and Hope Guru TKA/TPA Kutai Timur

Penulis.

Oleh: Hairy Ansyari

Opini – Kutai Timur, kota dengan akses yang lebih mudah terhadap sumber daya dan pendanaan seringkali lalai berinvestasi di sektor pendidikan non formal.

Timbul tanya, ‘mengapa daerah se-kaya Kutim mengabaikan potensi pendidikan non formal?’. Padahal, sektor ini juga berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Penulis berupaya memberi runtutan persoalan, pertama, kebanyakan daerah kaya menaruh fokus utama pada pendidikan formal, seperti sekolah dan universitas.

Mereka percaya bahwa pendidikan formal adalah kunci untuk mencapai mobilitas sosial dan ekonomi.

Investasi besar dialokasikan untuk membangun infrastruktur sekolah, meningkatkan kualitas guru, dan menyediakan program pendidikan formal yang berkualitas.

Kedua, ada stigma terhadap pendidikan non formal dipandang sebelah mata sebagai pendidikan yang kurang bernilai dan berkualitas dibandingkan dengan pendidikan formal.

Pandangan ini berakar dari stereotip bahwa pendidikan non formal hanya untuk masyarakat miskin atau marginal. Hal ini menyebabkan kurangnya minat dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat kaya untuk berinvestasi di bidang ini.

Di sisi lain, terdapat kekurangan data dan bukti yang memadai tentang dampak positif pendidikan non formal. Sehingga, pihak pemangku kebijakan atau pihak lain berpikir dua kali untuk berinvestasi di sektor ini.

Pemerintah dan pemangku kepentingan mungkin tidak yakin tentang manfaat dan nilai tambah yang dapat diberikan oleh pendidikan non formal.

Keempat, tak ada pihak yang berani mengukur dampak pendidikan non formal secara akurat dan objektif. Memang lebih sulit dibandingkan dengan pendidikan formal. Hal ini dapat membuat para pemangku kepentingan ragu untuk berinvestasi karena mereka tidak memiliki cara yang jelas untuk mengetahui apakah investasi mereka berhasil.

Terakhir, hemat penulis, terdapat kendala koordinasi dan kolaborasi antar pihak yang berkepentingan dalam pendidikan non formal.

Pemerintah, organisasi nirlaba, dan sektor swasta mungkin tidak bekerja sama secara efektif untuk mengembangkan dan mengimplementasikan program pendidikan non formal yang berkualitas.

Akibat dari itu semua, Kelalaian dalam berinvestasi di sektor pendidikan non formal dapat memiliki konsekuensi negatif bagi masyarakat di daerah kaya.

Kurangnya keterampilan dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan dapat menyebabkan buta huruf baca tulis Al-Qur’an. Masyarakat mungkin juga kurang memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang isu-isu penting seperti baca tulis Al-Qur’an , kurikulum dan manajemen.

Singkatnya, penulis berupaya menawarkan solusi untuk mengatasi masalah ini. Diperlukan upaya yang lebih terkoordinasi dan kolaboratif dari berbagai pihak.

Pemerintah perlu meningkatkan investasi dalam pendidikan non formal dan mengembangkan program yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Penting juga untuk meningkatkan kesadaran tentang manfaat pendidikan non formal dan menghilangkan stigma yang terkait dengannya.

Dengan berinvestasi dalam pendidikan non formal, daerah kaya dapat membuka peluang baru bagi masyarakatnya untuk mencapai potensi penuh mereka dan berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *