
SANGATTA — Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Kalimantan Timur diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari dinamika organisasi, tetapi juga tampil sebagai penggerak gagasan dan solusi bagi persoalan masyarakat. Peran tersebut dinilai penting untuk memastikan pembangunan daerah berjalan seiring dengan kepentingan rakyat.
Harapan itu disampaikan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, Basuki Isnawan, saat membuka Konferensi Daerah (Konferda) Persatuan Alumni GMNI (PA GMNI) Kalimantan Timur di Ruang Akasia, Gedung Serbaguna (GSG) Bukit Pelangi, Jumat (16/10/2026).
Mengusung tema “Bersatu dalam Ideologi, Bergerak dalam Pengabdian”, Konferda tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan arah kontribusi alumni GMNI dalam menjawab tantangan pembangunan.
Ardiansyah menilai, pengalaman dan kapasitas intelektual para alumni dapat menjadi modal penting untuk memperkaya perspektif pemerintah dalam menyusun kebijakan. Karena itu, PA GMNI diharapkan mampu menyampaikan kritik, menawarkan gagasan, serta memberikan alternatif penyelesaian atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Ia menegaskan, kemitraan dengan pemerintah tidak berarti organisasi harus kehilangan daya kritis. Sebaliknya, masukan yang objektif dan konstruktif diperlukan agar kebijakan pembangunan dapat terus diperbaiki dan lebih tepat menjawab kebutuhan publik.
Ardiansyah berharap PA GMNI Kalimantan Timur dapat terus berperan sebagai mitra kritis dan konstruktif pemerintah. Alumni GMNI memiliki potensi besar untuk menyumbangkan pemikiran, memberikan masukan terhadap kebijakan, serta menawarkan solusi bagi berbagai persoalan pembangunan,” pungkasnya.
Menurutnya, kontribusi organisasi kemasyarakatan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sebatas gagasan dalam forum. Alumni GMNI diharapkan turut mengambil bagian dalam peningkatan kapasitas generasi muda, penguatan literasi digital, serta pengembangan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya membangun komunikasi terbuka antara pemerintah dan berbagai elemen masyarakat. Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang dapat memperkaya proses pembangunan selama tetap diarahkan pada tujuan bersama.
“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi harus tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Ia berharap Konferda PA GMNI Kaltim menghasilkan kepemimpinan yang mampu memperkuat peran organisasi sekaligus menyusun program kerja yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Forum tersebut juga diharapkan menjadi ruang mempererat persaudaraan, menyatukan gagasan, dan memperkuat komitmen pengabdian.
Konferda PA GMNI Kaltim turut dihadiri perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan partai politik, Bawaslu, KPU, serta jajaran PA GMNI.
Melalui forum tersebut, alumni GMNI diharapkan dapat memperkuat kontribusinya dalam pembangunan Kalimantan Timur, dengan tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai orientasi utama.(ADV/Kominfo)
