Sangatta – Pedagang di Pasar Induk Sangatta mengeluhkan keberadaan pasar tumpah yang semakin menjamur. Sehingga keberadannya dianggap menurunkan jumlah pengunjung. Padahal Pemkab Sudah membangun pasar Induk yang dianggap bisa menjadi solusi dalam mengatasi pedagang pasar yang kerab berjualan di pinggir jalan.
Keberadaan pasar tumpah tersebut, mendapat sorotan dari anggota DPRD Kutim dari Fraksi Demokrat M. Amin. Dikatakan, pedagang banyak yang mengeluh atas keberasaan pasar tumpah tersebut.
Diungkapkan, saat rapat dengar pendapat dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) membahas Laporan Hasil Pertangunjawaban (LHP) keuangan pemkab Kutim di Ruang Rapat Kantor DPRD Kutim. Amin mengatakan, pasar Induk dan Pasar Sangatta Selatan yang dibangun pemerintah dengan nilai puluhan miliar rupiah, sepi, karena pasar tumpah ada dimana-mana.
“Pemerintah bangun pasar Induk Sangatta Utara, Pasar Sangatta Selatan dengan biaya puluhan miliar rupiah. Tapi sekarang kondisinya sepi, karena pasar tumpah dibiarkan muncul dimana-mana. Untuk itu, kami dari DPRD minta agar pemerintah tegas, pindahhkan pedangan kembali masuk ke pasar, gunakan pasar sesuai fungsinya,” katanya.
Menurutnya, banyak masalah yang muncul akibat pasar tumpah. Pertama, jalan makin macet, terutama pada pagi hari, dan sore hari saat karyawan pulang kerja. Dengan kondisi seperti itu, bukan tidak mungkin bisa terjadi kecelakaan akibat padatnya kendataan.
Selain itu, akibat pasar tumpah, maka pasar sepih. Bagaimana Pedagang yang berjualan di pasar bayar retribusi pasar, kalau tidak ada pembeli. “jadi kalau Pedagang sekarang banyak tidak bayar retribusi karena dagangan sepi, wajar. Jadi, agar Pedagang pasar bisa bayar retribusi, maka pemerintah harus menertibkan pasar tumpah, agar masyarakat belanja di pasar, Pedagang untung mereka bayar retribusi . Tapi kalau mereka rugi karena sepi pengunjung, mereka mau bayar pakai apa. Di sana, pemerintah juga dapat retribusi. Jadi kalau pasar ramai, Pedagang untung, pemerintah dapat retribusi untuk PAD,” katanya.


