banner 728x90
Berita  

Hutan Dirambah, Debit Air Perumdam Kaliorang-Sangkulirang Turun Drastis

KUTIMZONE.COM|KALIORANG – Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur Cabang Kaliorang dan Sangkulirang membunyikan alarm peringatan keras. Aktivitas perambahan hutan yang masif di kawasan tangkapan air (catchment area) telah memicu krisis air baku yang kian kritis dan mengancam hajat hidup ribuan warga.

Hasil peninjauan lapangan terpadu pada Selasa (9/6/2026) mendapati temuan mengejutkan: dari semula empat titik sumber mata air PT Api-api yang menjadi tumpuan warga, kini hanya tersisa satu titik yang aktif. Tiga titik mata air lainnya dilaporkan mati total akibat penggundulan hutan.

Dampak dari kerusakan hulu ini sangat masif. Kuantitas air baku di bak penampungan merosot tajam hingga hanya menyentuh 12 hingga 15 liter per detik (l/d). Padahal, untuk menjamin kelancaran distribusi bagi 3.827 pelanggan di dua kecamatan tersebut, kapasitas ideal yang dibutuhkan mencapai 40 hingga 50 l/d. Artinya, Perumdam saat ini mengalami defisit pasokan air bersih hingga lebih dari 60 persen.

Melihat kondisi yang kian mengkhawatirkan, Plt. Camat Kaliorang, Pitriani, S.Sos., M.A.P., bersama Kepala Perumdam Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, memimpin langsung penyisiran ke area tangkapan air. Peninjauan terpadu yang berlangsung sekira pukul 11.05 WITA tersebut turut melibatkan unsur Forkopimcam dari jajaran Polsek dan Babinsa Kaliorang.

“Saat kami melakukan survei, ditemukan beberapa titik kawasan hutan yang telah dibuka atau dirambah. Hal inilah yang membuat debit air di bak penampungan menurun drastis karena sumber mata air kita menyusut dari empat titik menjadi sisa satu titik saja,” ungkap Pitriani dengan nada prihatin.

Langkah Taktis dan Solusi Jangka Panjang

Merespons temuan tersebut, Pitriani menegaskan pihak kecamatan bersama unsur terkait akan segera mengambil langkah taktis jangka pendek berupa reboisasi atau penghijauan kembali di titik-titik hutan yang gundul. Namun, ia mengakui kondisi satu mata air yang tersisa sudah tidak mungkin lagi dipaksakan untuk menyuplai dua kecamatan secara berkelanjutan.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kecamatan Kaliorang kini membidik alternatif pengalihan sumber air baku ke Gunung Sakrat. Kendati demikian, opsi ini memerlukan pengawasan ketat sejak dini agar nasib alamnya tidak berakhir tragis seperti mata air PT Api-api.

“Jangan sampai saat kita beralih ke Gunung Sakrat, dampaknya akan serupa seperti hari ini akibat kita tidak menjaga kelestarian hutan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Apakah kita tega membiarkan generasi mendatang tidak bisa menikmati kekayaan alam kita?” tegas Pitriani.

Selain opsi Gunung Sakrat, Kepala Perumdam Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, menambahkan bahwa langkah pamungkas yang sedang dipersiapkan adalah mengandalkan pengoperasian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang ditargetkan berjalan pada akhir Juli 2026 mendatang.

Di akhir peninjauan, Pitriani mendesak adanya komitmen nyata dan sinergi lintas sektor, termasuk peran aktif dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur serta pihak korporasi. Penanganan dari sisi hulu dinilai menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar demi menyelamatkan hajat hidup orang banyak.

“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bisa memberikan perhatian khusus terhadap kondisi alam di Kecamatan Kaliorang, terkhusus untuk mengamankan suplai air baku Perumdam ini,” pungkas Pitriani.(Humas PDAM/kz)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *