Sangatta – Di tengah sorotan modernisasi dan gemerlap hiburan digital, satu pesan mendalam disuarakan oleh Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Timur, dalam penutupan Festival Pesona Budaya Kutim 2025, Minggu (23/11/2025).
Penampilan dua generasi muda, Zuhud Fauzi Abror dan Nur Riska Hidayatsah Aulia, dalam pentas Tarsul malam itu menjadi bukti nyata bahwa sastra lisan tradisional masih bisa menyentuh hati generasi sekarang. Dengan suara lembut dan penuh penghayatan, mereka menyampaikan syair berisi nasihat, nilai-nilai agama, dan kebijaksanaan lokal dalam format balas-berbalas khas Tarsul.
Menurutnya Tarsul bukan sekadar tradisi, melainkan jiwa luhur masyarakat Kutai yang harus tetap hidup.
“Tarsul adalah cermin jiwa masyarakat Kutai. Di dalamnya ada pesan moral, nilai Islam, adat, dan kebijaksanaan hidup. Kita wajib menjaga agar ia tak hanya dikenal, tapi juga diwariskan,” tegas Padliyansyah.
Ia menambahkan, Tarsul merupakan warisan budaya yang tak ternilai, dan sejak diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada 21 Oktober 2022, tanggung jawab pelestariannya semakin besar.
Menurut Padliyansyah, pelestarian Tarsul bukan cukup hanya dengan pentas. Harus ada ruang edukasi—baik melalui sekolah, komunitas, maupun festival yang memberi panggung bagi generasi muda.
“Kita akan dorong Tarsul masuk ke program ekstrakurikuler. Kalau anak-anak kita bisa baca puisi digital, mereka juga bisa belajar syair Tarsul. Ini soal memperkuat akar budaya,” ujarnya optimis.
Penampilan Zuhud dan Riska malam itu menjadi simbol regenerasi. Dengan intonasi terjaga dan penjiwaan syair yang kuat, mereka membuktikan bahwa seni tradisi bisa tetap relevan dan menggugah jika dikelola dengan penuh cinta dan visi.
Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025 pun bukan sekadar perayaan, melainkan tonggak penting bagi kebangkitan kembali Tarsul—sastra lisan Kutai yang tak lekang oleh waktu. (ADV).





