banner 728x90

Padliyansyah: Budaya Harus Jadi Motor Ekonomi Rakyat

Padliyansyah, Ketua Panitia Festival sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim
Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim

Sangatta – Festival Pesona Budaya Kutai Timur 2025 bukan hanya tentang melestarikan warisan leluhur, tapi juga tentang menghidupkan denyut ekonomi rakyat. Itulah yang ditekankan oleh Padliyansyah, Ketua Panitia Festival sekaligus Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, saat menyampaikan laporan dalam acara penutupan Minggu (23/11/2025).

Menurutnya, festival budaya harus mampu menjadi lebih dari sekadar panggung seni—ia harus menjadi arena perputaran ekonomi masyarakat. Padliyansyah melaporkan bahwa selama tiga hari festival berlangsung, sekitar 40 pelaku UMKM lokal berhasil meraih omzet kolektif lebih dari Rp 200 juta.

“Dapat kami laporkan, pada kegiatan Festival Pesona Budaya tahun ini juga ada yang unik, yaitu dengan keberadaan teman-teman dari UMKM yang berjumlah kurang lebih 40 stand,” ungkapnya di atas panggung utama.

Ia menambahkan, antusiasme pengunjung yang tinggi terhadap produk-produk lokal menunjukkan bahwa ekonomi berbasis budaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih serius ke depan.

“Omzet penjualan telah mencapai Rp 200 juta lebih sampai malam kemarin. Nah, tahu malam ini kayaknya cukup ramai, mudah-mudahan tambah meningkat omzet dari UMKM,” tambahnya dengan penuh harap.

Pencapaian ini, menurut Padliyansyah, tidak datang secara kebetulan. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor antara pelaku seni, pengusaha lokal, dan pemerintah daerah adalah kunci utama terciptanya ekosistem budaya yang produktif.

“Kalau kita bicara pelestarian budaya, maka harus kita padukan dengan ekonomi masyarakat. Itulah wujud budaya hidup—yang menghidupi,” tegasnya.

Festival tahun ini memang menunjukkan wajah baru pengelolaan kegiatan budaya di Kutai Timur. Di satu sisi, pelestarian tradisi seperti Tari Hudoq tetap menjadi inti acara, namun di sisi lain, potensi ekonomi dari warisan budaya dimaksimalkan melalui ruang usaha mikro.

Dengan dukungan kuat dari panitia dan pemerintah daerah, Festival Pesona Budaya Kutim tak hanya jadi simbol identitas, tapi juga lokomotif ekonomi rakyat yang layak diperluas di masa mendatang. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *