banner 728x90

Pemanfaatan Pekarangan Jadi Andalan, Sangatta Utara Genjot Ketahanan Pangan Warga

Camat Sangatta Utara, Hasdiah Dohi, saat diwawancara di ruang kerjanya pada Jumat (21/11/2025).
Camat Sangatta Utara, Hasdiah Dohi, saat diwawancara di ruang kerjanya pada Jumat (21/11/2025).

Kutim – Seperti menanam masa depan di halaman sendiri, Sangatta Utara kini menempatkan pekarangan sebagai “dapur kedua” bagi warganya. Melalui program Kampung Beragam, pemerintah kecamatan membangun gerakan baru: menghidupkan kembali tradisi bercocok tanam di sekitar rumah sebagai fondasi ketahanan pangan keluarga.

Program tersebut dipaparkan langsung oleh Camat Sangatta Utara, Hasdiah Dohi, saat diwawancara di ruang kerjanya pada Jumat (21/11/2025). Ia menekankan bahwa ketahanan pangan bukan lagi urusan kelompok tani semata, melainkan tanggung jawab setiap rumah tangga. Kampung Beragam, kata Hasdiah, menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat untuk tetap mandiri di tengah dinamika harga pangan yang sering berubah.

“Kami ingin masyarakat memaksimalkan pekarangannya. Bahkan lahan satu atau dua meter pun bisa sangat berarti bila dikelola dengan benar,” ujar Hasdiah.

Ia menjelaskan bahwa konsep penguatan pangan berbasis pekarangan dirancang agar warga dapat menanam berbagai jenis tanaman cepat panen, dari cabai, tomat, kangkung, hingga jahe dan serai. Pemerintah kecamatan ingin memastikan setiap keluarga memiliki akses langsung terhadap pangan sehat tanpa harus selalu bergantung pada pasar.

Menurutnya, pemanfaatan pekarangan bukan hanya tentang hasil panen, tetapi juga tentang membangun kebiasaan baru yang lebih mandiri.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya menjadi penerima bantuan,” tambahnya. “Kami ingin setiap rumah bisa menghasilkan pangan dasar sendiri. Kalau tiap rumah bisa panen sayurannya, itu mengurangi beban belanja dan memperkuat ketahanan keluarga.”

Hasdiah juga menekankan bahwa program ini sejalan dengan arahan pemerintah daerah yang tengah menggalakkan gerakan pertanian pekarangan. Kecamatan Sangatta Utara, kata dia, mengambil langkah cepat dengan menyiapkan skema pendampingan dan penyediaan bibit. Dari tanaman sayur, toga (tanaman obat keluarga), hingga tanaman bumbu dapur, semuanya diarahkan agar warga mudah memulai.

“Kami sudah koordinasi dengan kelompok PKK, karang taruna, hingga komunitas urban farming. Intinya, kami ingin gerakan ini merata, tidak hanya di satu dua RT. Setiap rumah harus punya peran,” ujarnya lagi.

Ia menambahkan, salah satu keunggulan program ini adalah kemampuan memanfaatkan limbah organik rumah tangga sebagai pupuk alami. Dengan membuat kompos dari sisa dapur, warga dapat mengurangi sampah dan sekaligus menyuburkan tanaman. Cara ini dinilai lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Beberapa RT juga tengah mempersiapkan demplot pekarangan terpadu yang berfungsi sebagai contoh bagi warga yang ingin belajar teknik bercocok tanam. Di lokasi ini, warga bisa melihat langsung bagaimana memadukan tanaman sayur, toga, dan tanaman buah dalam satu lahan kecil.

Menurut Hasdiah, keberhasilan program ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menciptakan lingkungan lebih hijau dan sehat.

“Kalau kita bisa mandiri pangan, lingkungan kita pun ikut sehat. Warga tidak hanya punya hasil panen, tapi juga punya halaman yang lebih hijau dan produktif,” pungkasnya.

Dengan bertumpu pada partisipasi warga dan pemanfaatan ruang yang ada, Kampung Beragam diharapkan menjadi tonggak baru bagi Sangatta Utara dalam membangun kemandirian pangan dan gaya hidup berkelanjutan. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *