banner 728x90
ADV, Berita  

Erau Kutim Tak Sekedar Agenda Tahunan, Bupati Siapkan Pembenahan Ritual pada 2027

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berencana kembali menggelar Erau Adat Kutai pada 2027 dengan membawa sejumlah catatan evaluasi dari pelaksanaan tahun ini. Pembenahan tata cara ritual dan penguatan pemahaman pemangku adat menjadi bagian penting agar tradisi yang dihidupkan kembali tersebut tidak kehilangan pijakan pada nilai-nilai aslinya.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan Erau bukan sekedar perhelatan budaya yang diselenggarakan untuk meramaikan agenda daerah. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi sarana menjaga kesinambungan adat Kutai sekaligus memperkenalkan kembali warisan leluhur kepada masyarakat.

Bagi Ardiansyah, pelaksanaan Erau tahun ini merupakan langkah awal dalam upaya menghidupkan kembali tradisi tersebut di Kutai Timur. Karena itu, masih terdapat sejumlah hal yang perlu dievaluasi dan disempurnakan sebelum pelaksanaan berikutnya.

“Insyaallah ini tetap akan kita laksanakan dengan perbaikan-perbaikan. Ritual adat dan sebagainya akan terus di lakukan,” ungkap Ardiansyah saat diwawancarai awak media di Rumah Adat Kutai, Sangatta, Selasa (13/10/2026).

Ardiansyah menilai, keberlanjutan Erau harus dibarengi dengan pendalaman terhadap nilai, tata cara, dan ketentuan adat yang menjadi dasar setiap rangkaian ritual. Dengan demikian, pelaksanaan pada tahun-tahun berikutnya tidak hanya berlangsung meriah, tetapi juga memiliki landasan tradisi yang kuat.

Ia berharap para pemangku adat Kutai di Kutim semakin aktif menggali dan mempelajari warisan budaya yang dimiliki. Upaya tersebut dinilai penting untuk memperkuat pemahaman mengenai pelaksanaan ritual, termasuk memastikan setiap tahapan kegiatan berjalan sesuai dengan rujukan adat.

Dalam pelaksanaan Erau di Kutim, tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi salah satu rujukan utama. Pedoman tersebut digunakan untuk menjaga kesesuaian berbagai unsur penyelenggaraan, mulai dari penggunaan pakaian adat hingga pelaksanaan ritual.

Untuk pemerintah daerah, proses evaluasi menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi. Pengalaman penyelenggaraan tahun ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bersama antara pemerintah dan pemangku adat untuk memperbaiki kekurangan yang masih ditemukan.

Komitmen menggelar Erau kembali pada 2027 sekaligus membuka ruang bagi penguatan peran masyarakat adat dalam menjaga warisan budaya Kutai. Keberhasilan pelestarian tradisi tidak hanya ditentukan oleh terselenggaranya sebuah acara, tetapi juga oleh pemahaman, keterlibatan, dan konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai yang diwariskan.

Dengan pembenahan yang berkelanjutan, Erau diharapkan berkembang menjadi lebih dari sekadar perayaan tahunan. Tradisi ini dapat menjadi ruang pewarisan pengetahuan adat kepada generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya Kutai di tengah perkembangan zaman.(ADV/Kominfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *