banner 728x90
ADV, Berita  

HUT ke-27 Kutai Timur, Ardiansyah Soroti Pemerataan Listrik hingga Pelayanan Dasar

Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman

SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menegaskan pemerataan pembangunan harus menjadi ukuran utama kemajuan daerah. Memasuki usia ke-27, pemerintah daerah didorong memastikan masyarakat di seluruh wilayah memperoleh akses infrastruktur, listrik, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik yang berkualitas.

Pesan tersebut disampaikan Ardiansyah dalam sambutannya pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur. Ia menekankan bahwa pembangunan tidak cukup dinilai dari angka statistik maupun penghargaan yang diraih, tetapi harus dibuktikan melalui perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya , sejumlah indikator pembangunan Kutim menunjukkan perkembangan positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 75,90 pada 2024 menjadi 76,48 pada 2025. Sementara itu, Indeks Kepuasan Masyarakat naik dari 81,41 menjadi 85,82 pada periode yang sama.

Kendati demikian, ia mengingatkan capaian tersebut harus diikuti peningkatan kualitas pelayanan dasar, mulai dari pendidikan, kesehatan, keterampilan tenaga kerja hingga kesempatan memperoleh pekerjaan.

“Ukuran keberhasilan pemerintah bukan banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan sejauh mana masyarakat merasakan pelayanan yang semakin mudah, cepat, transparan, adil, berkualitas, dan manusiawi,” terangnya.

Ia juga menyoroti perluasan akses listrik sebagai salah satu bukti pemerataan pembangunan di wilayah Kutim. Pada Agustus 2026, enam desa di Kecamatan Sangkulirang, yakni Saka, Palawan, Tepian Terap, Mandu Dalam, Mandu Pantai Sejahtera, dan Peridan, telah menikmati listrik PLN selama 24 jam.

Kemudian, pada 5 Oktober 2026, empat desa di Kecamatan Batu Ampar, meliputi Beno Harapan, Mawai Indah, Mugi Rahayu, dan Himba Lestari, juga resmi menikmati layanan listrik 24 jam setelah menanti selama puluhan tahun.

Menurutnya, kehadiran listrik memberikan manfaat lebih luas daripada sekadar penerangan. Akses tersebut membuka kesempatan bagi anak-anak untuk belajar, membantu pelaku usaha mengembangkan kegiatan ekonomi, serta memperluas akses masyarakat terhadap teknologi dan informasi.

“Bagi masyarakat desa, listrik bukan sekadar penerangan. Listrik berarti kesempatan bagi anak untuk belajar, bagi pelaku usaha untuk berkembang, serta terbukanya akses terhadap teknologi, informasi, dan pelayanan dasar,” ujarnya dalam sambutan tersebut.

Meski sejumlah wilayah telah menikmati peningkatan layanan listrik, Ardiansyah mengakui pekerjaan pemerataan pembangunan belum sepenuhnya selesai. Masih terdapat wilayah yang membutuhkan penguatan infrastruktur dan akses terhadap pelayanan dasar.

Oleh karena itu, pembangunan jalan dan jembatan, penyediaan air bersih, peningkatan fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta penguatan konektivitas perlu terus dilakukan agar masyarakat di wilayah terpencil tidak tertinggal akibat jarak dan kondisi geografis.

Ia menegaskan, semangat HUT ke-27 Kutim yang mengusung tema “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama” harus diwujudkan melalui pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

Ardiansyah berharap pertumbuhan daerah tidak hanya dinikmati kelompok atau wilayah tertentu, tetapi mampu membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.

“Pertumbuhan harus dirasakan bersama, tanpa ada wilayah, kelompok masyarakat, maupun generasi yang tertinggal,” demikian pesan Ardiansyah dalam sambutannya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan Kutai Timur yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing, dengan pembangunan yang semakin merata dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.(ADV/Kominfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *