banner 728x90
Opini  

STAI Sangatta: Gudang Mahasiswa Berprestasi, Namun Fasilitas ‘Tak Didukung’ Pihak Kampus

Foto: Abdil Sultani (Pribadi).

Oleh: Abdil Sultani (Mahasiswa STAI Sangatta)

Kutimzone.com – Pendidikan Tinggi alias kampus menjadi gerbang lahirnya para sarjana dengan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Mulai dari pendidikan, Teknik, Kedokteran dan sebagainya.

Di Kalimantan Timur sendiri, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur, ada satu kampus yang saat ini aktif menjalankan aktivitas pendidikan tinggi. Keaktifan itu penulis ukur dengan terlaksananya Tri Dharma Perguruan tinggi, yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian kepada masyarakat. Kampus itu adalah STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Sangatta.

Kampus ini sedang aktif membina dua jurusan dan enam program studi (Prodi). STAI Sangatta, memiliki mahasiswa tak kurang dari 500 orang.

Jika di total, mahasiswa yang terdaftar, baik yang mengikuti kelas reguler pagi, siang, bahkan weekend, jumlahnya mencapai 728 orang. Angka yang sangat fantastis untuk kampus yang hanya membina dua jurusan.

Tak berhenti disitu, penulis menilai, kuantitas dan kualitas mahasiswa STAI Sangatta tak jauh beda dengan kualitas kenamaan di Kutai Timur. Termasuk pengembangan minat dan bakat yang tak bersangkut paut dengan urusan akademik mahasiswa.

Ada beberapa mahasiswa yang penulis kenal begitu rajin dalam menghasilkan tulisan, bahkan tulisan itu telah diterbitkan dalam bentuk buku. Selain itu, bibit-bibit mahasiswa yang potensial dalam dunia jurnalistik pun tak ketinggalan.

Tak bermaksud mengglorifikasi prestasi demikian, hanya saja, saya memandang, kualifikasi mahasiswa STAI Sangatta memang layak diketahui publik, yah tentu lewat tulisan ini.

Dalam aspek keagamaan, mahasiswa STAI Sangatta begitu aktif dalam kontestasi MTQ. Hampir di semua tingkat, mulai dari kecamatan, hingga level provinsi. Tak tanggung-tanggung, kontestan dari STAI Sangatta juga acapkali memperoleh juara di setiap lomba.

Mahasiswa yang minat dan bakat di bidang olahraga juga pernah membawakan nama STAI Sangatta di tingkat kabupaten Kutim, pada cabang olahraga futsal dan menjadi juara 2 dan 3. Ada juga mahasiswa yang ikut berpartisipasi di pemilihan duta yang diselenggarakan pemerintah kutim seperti pemilihan duta kebudayaan masuk dalam 10 besar, dan juga ada yang terpilih menjadi duta genre yang mewakili kab. Kutim di tingkat Provinsi, juga 3 mahasiswa STAI Sangatta mewakili Kutim pada lomba debat yang diadakan Bawaslu di Samarinda.

Dari 3 kampus di kutim STAI Sangatta, STIE dan STIPER yang mengikuti seleksi, Hanya perwakilan dari STAI Sangatta yang berhasil lolos. Dalam lomba itu, mahasiswa STAI Sangatta masuk dalam babak delapan besar dan mengungguli kontestan Universitas Mulawarman.

Lalu, apa pentingnya saya menulis semua deretan prestasi mahasiswa STAI Sangatta?

Hemat pengalaman penulis, dari sekian prestasi mentereng itu, pihak kampus rupanya tak begitu antusias menyiapkan fasilitas bagi mahasiswa.

Sepatutnya, minat dan bakat mahasiswa yang telah ikut berkontestasi pada lomba tertentu disokong dengan fasilitas yang dibutuhkan.

Tentunya, hal itu diperlukan untuk menghadirkan suasana nyaman dan tenang dalam mengasah potensi yang dimiliki mahasiswa.

Hal inilah yang perlu menjadi atensi bagi pimpinan kampus. Tentu, saya dan para pembaca yang budiman tak bisa menutup mata. Sebab sekian banyak informasi yang berseliweran di media tentang buruknya fasilitas untuk mahasiswa di STAI Sangatta.

Pada portal berita PROKAL.co, penulis pernah mendapati satu klarifikasi dari pihak kampus. Ketua STAI Sangatta pun tak membantah jika ia sering kali mendapat keluhan dari warga kampus, terutama dalam aspek sarana dan prasarana.

Paling buruk, adalah akses jalan masuk kampus yang hingga kini tak kunjung mengalami perkembangan. Jalan tanah itu seringkali tampak seperti kanal saat hujan mendera wilayah Sangatta.

Satu lagi yang penulis sangat sayangkan, keluhan tentang kondisi rumah ibadah (Masjid) umat Islam di kampus itu yang sangat membahayakan.

Plafon masjid itu nampak telah kusam, mungkin juga akan roboh. Mahasiswa maupun dosen yang melaksanakan ibadah di masjid pun sering kali dibuat was-was. Pasalnya, plafonnya menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.

Padahal, masjid ini seringkali dialihfungsikan menjadi tempat untuk melakukan pertemuan-pertemuan. Termasuk penerimaan mahasiswa baru dan pelepasan KKN.

Hal lain yang perlu penulis soroti adalah toilet kampus yang sangat terbatas. Bahkan, di satu waktu, untuk buang air kecil saja, para mahasiswa harus antrian. Lebih menakutkan lagi, pintu toilet kebanyakan sudah rusak, sangat tak layak digunakan.

Dari tahun 2020 hingga 2023 beberapa upaya perbaikan fasilitas yang dilakukan tidak mampu mengurangi kerusakan yang ada. Fasilitas yang ada sudah menjadi pemandangan biasa bagi mahasiswa dan dosen STAI Sangatta.

Bisa dikata, kampus STAI Sangatta layak dan tidak layak digunakan sekelas perguruan tinggi.

Penulis tentu tak punya kewenangan lebih untuk mengintervensi lebih jauh. Sebab, pemerintah pun telah turun tangan.

Beberapa waktu lalu, Asisten I Pemkab Kutim telah mendesak pihak kampus untuk melakukan perbaikan terhadap fasilitas yang telah rusak. Bahkan, pihak Pemkab hendak mengambil alih jalannya perbaikan fasilitas jika pihak kampus mengaku tak bisa menuntaskan keluhan-keluhan yang ada.

Sangat disayangkan, respons pihak kampus justru sangat jauh dari jawaban yang diharapkan. Dalih menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi menjadi alasan mangkraknya perbaikan fasilitas-fasilitas yang telah usang dan rusak.

Mestinya, pihak kampus berbesar hati menerima usulan dan masukan dari semua pihak. Tak hanya dari pemerintah, namun juga mahasiswa yang menjadi objek di kampus.

Note: Tulisan sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *